PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Pergerakan harga minyak sawit mentah (CPO) berjangka diperkirakan masih melambat dengan kecenderungan menurun. Belum meredanya ketegangan dagang antara AS dengan China menjadi salah satu pemicunya.  

Perang dagang AS vs China yang tak kunjung usai berpotensi menganggu harga komoditas, karena kedelai menjadi salah satu produk yang menjadi sasaran dari kisruh kedua perekonomian terbesar dunia itu.

Jika kedelai asal AS tak lagi masuk ke pasar China dengan harga murah, maka komoditas ini akan tertekan. Imbasnya, harga minyak nabati jenis lain, seperti minyak sawit, juga akan terpengaruh. Pasalnya, kedua minyak nabati ini bersaing di pasar global.

Menurut analisis tren, tren utama menunjukkan CPO sedang bergerak turun dan dalam jangka pendek pelemahannya berpotensi berlanjut dengan menguji level support RM1.972 per ton.

Adapun level resistance yang harus ditembus dalam jangka pendek berada di angka RM2.000 per ton.

--page

Pada akhir pekan lalu, harga CPO kontrak Juli anjlok hingga 2,32% ke level RM1.981 per ton. Dengan demikian, hingga tahun berjalan, harga CPO telah terkoreksi sebesar 6,46%.

Tidak cuma CPO, minyak kedelai di Chicago Board of trade (CBOT) juga mengalami tekanan. Harga minyak kedelai merosot hingga 1,6% ke level terendah dalam 7 bulan. (NEDELYA RAMADHANI/m)