KUALA KAPUAS –

BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Meninggalnya Heldas (41), warga Desa Pujon, Kecamatan Kapuas Tengah yang jadi korban pembunuhan itu masih menyisakan duka mendalam bagi pihak keluarga. 

Pihak keluarga yang diwakili kakak ipar korban bernama Waldi angkat bicara atas peristiwa yang terjadi pada Minggu, 28 Juli 2019 lalu di sekitar Sei Kalaman, Desa Pujon, Kecamatan Kapuas Tengah.

Waldi menjelaskan dan ingin meluruskan, korban dalam kejadian itu tidak ada sama sekali meminta uang kepada tersangka pelaku AG (36). Itu membantah informasi-informasi yang beredar belakangan.

"Kami ingin meluruskan kejadian yang sebenarnya itu seperti apa, korban tidak seperti itu (meminta uang). Dan kami keberatan atas informasi sebelumnya," ucap Waldi, Kamis, 1 Agustus 2019.

"Adapun inti dari poin itu kami keberatan korban disebut meminta uang atau memeras atau memalak, apa buktinya korban meminta uang. Lahan itu milik korban. Korban pun orang berada. Semua orang tahu kepribadian korban," lanjutnya.

--page

Lebih lanjut, dia mengharapkan pihak kepolisian dapat optimal mengungkap kasus itu.

"Apakah pihak kepolisian itu sudah melakulan penyelidikan optimal, sehingga mereka berani mengeluarkan informasi itu. Mereka hanya mendengar pengakuan dari pelaku yang menyerahkan diri itu," ucapnya.

Berdasarkan keterangan Waldi awalnya pada Sabtu, 27 Juli 2019, korban bersama kakaknya ke lokasi tanah korban yang merupakan kebun karet. Saat di lokasi kebun, korban dan kakaknya melihat ada penambangan puya diduga liar menggunakan mesin di sungai sekitar tanah korban.

"Korban pun menyampaikan kalau tanah itu milik dia kepada penambang. Maka terjadilah kesepakatan untuk nantinya para penambang bersama korban menunjukkan lokasi batas tanah korban. Korban pun setelah ada kesepakatan kemudian pulang ke rumah," katanya.

Kemudian pada saat peristiwa nahas itu terjadi yakni pada hari Minggu, 28 Juli 2019 sekitar pukul 09.00, Waldi menjelaskan dari pengakuan beberapa warga, ada yang melihat 3 orang diinfokan sebagai penambang  menjemput korban ke rumah. Alasannya, alasan ingin mengecek lokasi tanah korban untuk memastikan batas tanah korban.

--page

"Namun saat di rumah, menurut isteri korban, mereka sempat ada cek cok. Karena mereka merasa agak keberatan tanah itu disebut tanah korban," ucapnya.

Awalnya lanjut dia, korban tidak mau dan meminta hari lain, karena hari itu korban mau pergi membeli sapi untuk kawinan anaknya pada pertengahan bulan Agustus nanti.

"Tapi 3 orang itu dikenali inisial B, kedua D, dan ketiga P membujuk korban dengan alasan menyelesaikan permasalahan batas tanah itu. Akhirnya korban pun bersama mereka pergi ke lokasi naik sepeda motor untuk menyelesaikan permasalahan lahan itu," ucapnya.

Jadi, menurut dia mereka langsung berangkat saja ke lokasi kejadian tersebut. Hingga akhirnya datang kabar bahwa ada perkelahian di sana, sampai pihaknya mencari info dan mendapatkan kabar bahwa korban meninggal dunia.

"Lalu kami memastikan ke lokasi sampai di terminal ojek (lokasinya 10 KM dari TKP awal) itu di atas sudah ada jenazah korban di sana, langsung kami bawa ke Puskesmas Pujon untuk dibersihkan dan dibawa ke rumah duka selanjutnya," jelasnya.

--page

"Tapi kenapa ketiga orang yang menjemput di rumah saat itu hingga kini belum diperiksa polisi. Jadi kami meminta polisi untuk memeriksa mereka juga," harapnya. (DODI RIZKIANSYAH/B-11)