BORNEONEWS, Sampit - Banyak usaha pelayaran di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) ini tidak optimal. Hal itu terjadi karena dangkalnya Sungai Mentaya. Kapal yang masuk harus antre hingga menambah biaya pengeluaran.
"Kami sudah menampung keluhan para pengguna alur Sungai Mentaya, dan rata-rata mengeluhkan dangkalnya Sungai Mentaya," ujar Ketua Asosiasi Badan Usaha Pelabuhan Indonesia (ABUPI) Koordinator Wilayah Kalteng Muhammad Guntur Syaban, kepada wartawan, Kamis, 29 Agustus 2019.
Seperti keluhan operator kapal roro, mereka ingin tumbuh besar di Sampit, namun karena terkendala alur, hanya kapal kecil yang bisa mereka operasikan.
Begitu juga dengan operator kapal peti kemas, kapal mereka harus menunggu 6 hingga 8 jam di muara, karena alur digunakan bergantian. Bahkan, banyak kargo tidak terangkut karena hanya kapal kecil yang bisa masuk, maksimal 200 TEUS.
Selain itu, Pertamina Sampit juga mengeluhkan alur Sungai Mentaya. Mereka menginginkan agar alur bisa segera direvitalisasi, karena selama ini mereka hanya bisa mengirim Bahan Bakar Minyak separuh dari kapasitas kapal.
--page
Sedangkan perusahan tambang bauksit, berdampak pada kegiatan pemuatan pihaknya di STS terhambat, akibat tidak lancarnya keluar masuk alur.
Begitu pula perusahan refinery CPO, mereka tidak bisa mengeluarkan biaya ekonomis, karena mereka harus melakukan STS di muara. Sehingga lebih mahal, karena tidak bisa langsung melakukan pengiriman dengan minimum 10 ribu ton CPO.
"Ada juga perusahaan sawit yang rugi Rp 1 miliar hingga Rp 2 miliar per hari, karena produksi tidak optimal, akibat pengiriman keluar tidak lancar," terang Guntur.
Hal tersebutlah menjadi perhatian mereka. Jika nantinya revitalisasi bisa dilakukan, maka peningkatan ekonomi di Kotim ini akan lebih baik dan berdampak besar bagi kemajuan daerah. (MUHAMMAD HAMIM/B-2)








