BORNEONEWS, Sampit - Bencana kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan melatarbelakangi aksi musisi Sampit untuk menciptakan lagu. Melalui lagu itu, mereka menyampaikan derita akibat peristiwa ini.
Lagu itu karya band kolaborasi dari Far Production dan Masterpiece Band. Mereka membuat lagu dengan berjudul Save Kotimku.
Lirik lagu tersebutpun menyampaikan pesan bahwa masyarakat Kotim saat ini sedang berjuang melawan api. Bahkan tiada lagi hutan hijau karena banyak tersapu kebakaran.
"Lagu ini merupakan ungkapan hati kami, karena kami tidak bisa membantu banyak untuk memadamkan kebakaran lahan yang terjadi. Kami hanya bisa menyampaikan keluhan masyarakat lewat lagu. Dengan harapan didengar pemerintah pusat," kata Leonard, vokalis lagu itu, Kamis, 19 September 2019.
Melalui lagu tersebut, mereka ingin menyampaikan kondisi di Kotim ini perlu dilihat, karena Kotim juga Indonesia. Jangan sampai ada korban jiwa akibat kabut asap dan kurangnya perhatian dari pemerintah.
--page
Lagu tersebut juga bentuk apresiasi kepada tim Satgas Karhutla yang telah berupaya memadamkan api kebakaran lahan.
Adapun personel band tersebut terdiri dari Leonard sebagai vocal, Abe Abraham pemain keyboard, Ferry Hakim sebagai gitaris, dan Rio Permadi keyboard 2 sekaligus editor musik.
Proses pembuatan lagu tersebut sangatlah singkat. Hanya memakan waktu selama tiga hari. Bahkan mereka terjun langsung ke lokasi, dan merasakan dampak dari karhutla.
"Pengambilan gambar sendiri kami juga langsung terjun ke lapangan, ditambah dengan potongan dokumen pemadaman dan kabut asap milik teman," kata Leonard.
Lagu tersebut diciptakan oleh Abe, Ferry, dan Rio. Saat sedang nongkrong di studio musik milik mereka. Lagu tersebut hanya ditulis dalam sehari. Begitu juga pengambilan gambar dan juga pembuatan musik hingga menjadi utuh.
--page
"Mungkin karena keresahan kami dan masayarakat, sehingga membuat lagu Save Kotimku ini mudah diciptakan dan diselesaikan," terang Ferry.
Sedangkan, pembuatan video klip lagu tersebut menjadi kesan tersendiri bagi mereka. Apalagi, sempat beberapa kali berpindah lokasi karena terganggu dengan asap kebakaran lahan.
Tidak hanya itu, salah satu personil juga sempat tidak sengaja memakan abu hasil kebakaran lahan. Begitu juga dengan sang vokalis yang nyaris tertimpa pohon tumbang akibat lahan gambut terbakar.
"Untuk pengambilan gambar sangat berkesan, namun kami sudah puas bisa menyampaikan suara hati kami dan masyarakat melalui lagu ini," kata Ferry.
Dengan lagu tersebut, mereka berempat berharap agar bisa dilihat dan didengar pemerintah pusat. Sehingga mereka tidak lagi mengatakan bahwa Karhutla di Kalteng atau Kotim ini hanya biasa saja. Namun sudah berdampak terhadap kabut asap yang pekat. (MUHAMMAD HAMIM/B-11)








