BORNEONEWS, Sampit - Sejumlah akun facebook milik ulama di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dikloning oleh orang yang tidak bertanggungjawab. Kloningan akun facebook sejumlah ulama tersebut diketahui saat akun tersebut meminta uang dan pulsa.
Adapun modus yang dipakai oleh pelaku tersebut yakni dengan memakai foto ulama dan tokoh di Sampit. Setelah itu, akun tersebut meminta pertemanan dan memulai percakapan menggunakan mesengger. Saat itulah dirinya beraksi untuk meminta uang atau pulsa.
Para ulama yang akun FB-nya dikloning tersebut di antaranya adalah Ustaz Ahmad Rayan Zuhdi Abrar yang merupakan pengasuh Pondok Pesantren Darul Amin Sampit, dan juga Ustaz Syarifuddin. Selain itu ada juga tokoh masyarakat Ahmad Royani Aziz, dan juga seorang pengusaha Seni Wantoko yang juga melaksanakam ibadah umroh.
Pelaku kloning sendiri beraksi dengan bertanya kabar korbannya. Setelah dibalas, pelaku langsung mengirim chat dengan isi, "Kebetulan saya sedang ibadah umrah. Grapari di sini sedang tutup, m-banking sedang gangguan, sudah beberapa kali dicoba tetap limit. Bisa sementara isikan pulsa ke nomor saya. Kebetulan keluarga di Indonesia ada yang mau dihubungi, nanti diganti lebih uang pulsanya."
Sontak hal itu mengagetkan para teman-teman korban di Sampit. Karena tidak percaya dengan chat mesengger tersebut dan merekapun langsung konfirmasi dengan yang bersangkutan dan langsung dibenarkan bahwa itu bukan dirinya yang meminta uang atau pulsa.
--page
"Sempat kaget juga dengan adanya hal tersebut. Dan saya minta bantu dengan kawan-kawan di Sampit agar menyebarkan bahwa akun tersebut palsu, dan bukan saya yang meminta uang atau pulsa," ujar Ustaz Rayan, kepada Borneonews.co.id saat dimintai keterangan, Selasa, 5 November 2019.
Sementara Kasat Reskrim AKP Ahmad Budi Martono yang dimintai keterangan mengungkapkan, pihaknya akan melakukan penyelidikan kasus ini. Dan hal ini diakuinya memang sudah sering terjadi dengan berbagai modus untuk meraup keuntungan bagi pelakunya.
"Kasus ini masih kami selidiki lebih dalam. Kasus yang sama memang sering terjadi, namun modusnya berbeda-beda," terang Budi.
Dirinya mengimbau kepada masyarakat di daerah ini agar selalu waspada dengan kasus ini. Dan selalu memakai sandi yang rumit terhadap akun media sosial. Sehinga tidak mudah dibajak oleh orang yang tidak bertanggungjawab. (MUHAMMAD HAMIM/B-2)








