BORNEONEWS, Sampit - Pembahasan Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (RAPBD) Kotawaringin Timur tahun 2020 dikebut. Bahkan pembahasan tidak hanya siang hari, tetapi dilanjutkan hingga malam hari. Itu dilakukan untuk mengejar batas akhir hingga akhir bulan November ini.
Wakil Ketua DPRD Kotim, Rudianur, mengatakan pembahasan yang dilakukan DPRD juga sangat hati-hati dan cermat. Mereka tidak jarang harus bersitegang dengan eksekutif karena memaksakan sesuatu program yang dianggap masih belum mendesak.
“Di saat kondisi anggaran seperti ini, tidak ada kata lain selain pembahasan yang cermat dan hati-hati," kata Rudianur, Kamis, 21 November 2019.
Rudianur mengakui dengan kondisi keuangan daerah yang sangat sedikit ruang gerak, program yang diusulkan masyarakat tidak terpenuhi dan teranggarkan. Dengan begitu maka harus tertunda lagi.
Kondisi anggaran memang minim, saat ini banyak program yang harusnya dilaksanakan di tahun 2020. Tapi karena ketidakadaan, anggaran itu kembali ditunda lagi.
--page
Sementara itu, RAPBD Kotim tahun 2020 terjadi penurunan dari tahun sebelumnya. Untuk tahun ini, pendapatan sekitar Rp 1,77 triliun.
Pendapatan tersebut bersumber dari pendapatan asli daerah (PAD) Rp 250 miliar, dana perimbangan Rp 1,19 triliun, dan pendapatan yang sah Rp 331,5 miliar.
Sementara itu untuk belanja totalnya Rp 1,84 triliun. Rinciannya, belanja tak langsung sekitar Rp 1,02 triliun dan belanja langsung Rp 817,7 miliar.
Defisit APBD Kotim berhasil ditekan hingga mencapai Rp 72,8 miliar atau sekitar 4,11 persen. Angka itu merupakan hasil rasionalisasi yang dilakukan TAPD. Sebelumnya defisit diperkirakan mencapai Rp 150 miliar atau sebesar 10 persen. (NACO/B-11)








