JAKARTA –

BORNEONEWS, Jakarta – PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) hari ini melaksanakan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan dan Paparan Publik, bertempat di Financial Hall Gedung Graha Niaga, Jakarta.

Adapun agenda mata acara RUPST tersebut adalah laporan Direksi mengenai jalannya Perseroan dan Tata Usaha Keuangan untuk tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2019; Persetujuan dan Pengesahan neraca dan perhitungan Laba/Rugi untuk tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2019.

Agenda lainnya adalah ketentuan dan persetujuan penggunaan keuntungan yang diperoleh Perseroan pada tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2019; Penunjukan Akuntan Publik untuk melakukan audit atas Laporan Keuangan Perseroan untuk tahun buku 2020; Persetujuan Pengunduran Diri Direktur Perseroan Nicholas Justin Whittle.

Dalam paparan publiknya, SSMS menjabarkan mengenai hasil kinerja produksi dan kebijakan perusahaan sepanjang 2019.

Direktur Utama SSMS Vallautahan Subraminam menjelaskan, “Secara finansial pada 2019 perseroan mengalami penurunan dari ekspektasi. Hal tersebut karena adanya penurunan angka penjualan."

--page

Ia memaparkan, perseroan pada 2019 mencapai penjualan Rp3.277,81 miliar dibandingkan 2018 yang sebesar Rp3.710,78 miliar. Penurunan itu karena nilai penjualan harga minyak sawit mentah (CPO) turun di awal 2019, walaupun di hari-hari terakhir tahun 2019 mengalami penguatan. 

"Perseroan masih bisa membukukan laba usaha di 2019 meski mengalami penurunan dibandingkan tahun 2018," jelas Vallauthan.

Pada 2019, perusahaan menghasilkan total produksi TBS mencapai 1.521.602 metrik ton dengan yield sebesar 21,98 metrik ton per hektare. Jumlah itu mengalami penurunan dibandingkan produksi 2018 yang mencapai 1.616.441 ton dengan yield sebesar 24,4 metrik ton per Ha. 

Lebih lancet ia memaparkan, dengan adanya dua tambahan pabrik baru pada akhir 2019, SSMS memiliki kapasitas produksi 540/ton TBS per jam. Selain itu, untuk memperbaiki kinerja pada 2020, perseroan akan menambah kapasitas penggilingan
sebesar 150 metrik ton (MT) per jam. Hal ini akan memberikan dukungan usaha bagi perseroan yang semakin kuat untuk menyokong pertumbuhan kinerja pada tahun 2020. Pertumbuhan volume CPO yang diproses memungkinkan perusahaan mengambil keuntungan lebih besar daripada harga yang lebih ketat dalam produk inti CPO kami pada 2020.

--page

Vallauthan melanjutkan, “Untuk meningkatkan mutu produksi CPO maupun produk turunannya bagi pasar ekspor, Perseroan secara kontinyu meningkatkan sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) pada usaha hilir. Sertifikasi ISPO pada SSMS telah mencapai 80% dari total perkebunan di tahun 2019. 

Dari segi produksi, kata dia, produksi yang dihasilkan perseroan termasuk the best country (produksi kelapa sawit dan CPO terbaik di sektor nasional) Kemudian dari aspek sustainability atau keberlanjutan, SSMS mampu mempertahankan Sertifikat Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), bahkan meraih Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) dan Sertifikat ISO. Sertifikat ISO yang kami terima adalah ISO 9001:2015 (Sistem Manajemen Mutu), Sertifikat ISO 14001:2015 (Sistem Manajemen Lingkungan) serta Sertifikat ISO 45001:2018. 

"Kami juga menerima Sertifikat Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) untuk perseroan dan sejumlah entitas anak. Upaya perseroan dan Entitas Anak memperoleh Sertifikat RSPO dan ISPO dalam beberapa tahun terakhir menjadi bukti komitmen kami mendukung peningkatan daya saing industri kelapa sawit Indonesia di pasar dunia. Perseroan semakin memerhatikan lingkungan dan lebih peduli terhadap manusia (petani maupun masyarakat),” jelas Direktur Utama SSMS Vallautahan Subraminam. (m)