PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Kepala Bursa Efek Indonesia atau BEI Kalimantan Tengah, Stephanus Cahyanto Kristiadi mengatakan bahwa dari sisi supply, PT Bursa Efek Indonesia sampai dengan 10 Agustus 2020 berhasil mencatatkan 35 saham baru dan sekaligus merupakan yang tertinggi di antara Bursa ASEAN, diikuti oleh 11 saham baru di Malaysia, 5 saham baru di Singapura, 4 saham baru di Thailand, dan 1 saham baru di Filipina, data per 31 Juli 2020.

"Sementara itu, jika dilihat dari segi fund raised sebesar USD 260 juta, BEI berada di peringkat ke-2 di antara ASEAN setelah Thailand, USD 2,76 miliar. Pencatatan saham baru ini di BEI diikuti dengan 7 pencatatan ETF baru, 1 EBA, dan 1 Obligasi Baru," kata Kris kepada Borneonews pada Rabu, 12 Agustus 2020.

Selain itu, lanjut Kris, berdasarkan data dari World Federation of Exchanges, sampai dengan Juni 2020, 45 produk Exchange Traded Fund atau ETF di BEI juga merupakan jumlah ETF tertinggi di antara Bursa-bursa Efek di ASEAN.

"Diikuti oleh 18 ETF di Malaysia, 17 ETF di Thailand, 6 ETF di Singapura, dan 1 ETF di Filipina untuk kategori ETF berbasis indeks lokal," tuturnya.

Memperhatikan pertumbuhan sisi supply di BEI sampai dengan 10 Agustus 2020, secara total terdapat 44 pencatatan Efek baru yang terdiri dari saham, obligasi, dan efek lainnya dari target 46 Pencatatan efek baru di tahun 2020.

--page

"Dari sisi demand, jumlah investor Pasar Modal Indonesia yang tercatat pada PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per Juli 2020, yang terdiri atas investor saham, reksa dana, dan obligasi telah bertumbuh

sebesar 22% dari tahun 2019 lalu, menjadi 3,02 juta investor. Dari jumlah tersebut, 42% di antaranya merupakan investor saham," tambahnya. (TESTI PRISCILLA/B-5)