PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Manggala Agni Daerah Operasi (Daops) Kalimantan III/Pangkalan Bun terus berupaya mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Berbagai cara dilakukan, salah satunya dengan program sosialisasi Halo - Halo Karhutla menyapada desa.

Kepala Daops Manggala Agni Kalimantan III Binsar Oktavianus Togatorop menjelaskan, halo-Halo Karhutla merupakan terobosan dari Manggala Agni, untuk mensosialisasikan tentang bahaya akan kejadian karhutla dan pencegahan karhutla, kepada masyarakat umum secara langsung yang berada di desa-desa rawan akan kejadian karhutla.

Dengan memodifikasi motor patroli roda dua, anggota Manggala Agni akan berkeliling di desa rawan karhutla, menyampaiakan himbauan melalui pengeras suara, melakukan penyuluhan dan sosialisasi langsung kepada masyarakat agar senantiasa selalu menjaga lingkungan, kebun dan pekarangan agar tidak melakukan pembakaran hutan dan lahan.

"Kegiatan pencegahan halo-halo karhutla ini dilaksanakan rutin setiap hari oleh 2-3 orang anggota Manggala Agni. Mereka akan berkeliling pada desa sasaran tidak hanya pada satu desa rawan saja, namun akan berpindah-pindah menyesuaikan Indeks Fine Fuel Moisture Code (FFMC) setiap harinya," kata Oktavianus Togatorop, Sabtu, 20 Februari 2021.

Dia menyampaikan tidak hanya himbauan dengan pengeras suara, sosialisasi secara langsung kepada masyarakat,pembagian pamflet/leaflet, serta melakukan pengaturan Papan Informasi Peringkat Bahaya Kebakaran Hutan dan Lahan (PIPBK) yang ada di desa.

--page

"Pencegahan karhutla terus kami tingkatkan, baik melalui pemantauan titik panas juga dilakukan sosialisasi, sebagai upaya nenekaan angka kejadian karhutla," ungkapnya.

Berdasarkan data dari pantauan Manggala Agni Daops Kalimantan III Pangkalan Bun, hingga Jumat 19 Februari 2021 titik panas masih terpantau rendah. Selama Januari hingga Februari terpantau 28 titik panas yang berada di lima kabupaten wilayah kerja Manggala Agni Daops Kalimantan III Pangkalan Bun.

Kepala Stasiun Meteorologi Iskandar Pangkalan Bun, Aqil Ihsan menjelaskan beberapa hari ini angin di lapisan atas berhembus cukup kencang, dan membawa udara yang cenderung kering dari belahan bumi utara.

Sehingga pembentukan awan hujan terganggu, ditambah dengan tidak adanya gangguan cuaca konvergensi dan lain - lain, yang mendukung pembentukan awan hujan di sekitar wilayah kobar dan sukamara.

"Selalu waspada kondisi saat tidak hujan untuk tetap tidak membakar lahan. Meskipun saat ini masih memasuki musim penghujan, tapi tidak setiap hari selalu terjadi hujan," tambahnya. (DANANG/B-6)