BORNEONEWS, Tamiang Layang - Pandemi covid-19 yang melanda seluruh dunia termasuk Kabupaten Barito Timur membuat bunyi alat musik kenong, gong, gendang, bedug maupun rancak bunyi gelang dadas dan bawo yang dimainkan penari tradisional Dayak Maanyan hampir tidak lagi terdengar di Sanggar Tari Kawuri Ngamang Talam.
Bahkan mulai Agustus 2020 latihan rutin yang biasa dilakukan mulai pukul 16.00 WIB setiap hari Selasa dan Minggu di RT 03 Desa Bamban Kecamatan Benua Lima itu dihentikan total.
"Waktu awal pandemi kami masih bisa latihan dan manggung, namun sekitar bulan Agustus 2020 ketika kasus positif covid-19 mulai banyak di Kecamatan Benua Lima, kami stop," ungkap Pengelola Sanggar Tari Kawuri Ngamang Talam, Sabulman saat diwawancarai di kediamannya, Kamis, 29 April 2021.
"Terakhir anak-anak manggung pada Januari 2021 di Desa Bamban, itu pun terpaksa karena kami sudah bernazar kepada pemilik hajatan. Jadi untuk tampil kami berkoordinasi dengan Satgas covid-19 serta menerapkan protokol kesehatan yang ketat bagi penari maupun pemain musik," imbuh pria yang memulai sanggar tersebut pada tahun 2018.
Sabulman mengisahkan, pendirian sanggar tari itu didasari oleh kerinduan masyarakat Desa Bamban terutama orang-orang tua atau sesepuh desa untuk mendengar kembali bunyi-bunyian alat musik tradisional Dayak Maanyan maupun melihat tari-tarian di desa tersebut. Ditambah lagi banyak anak muda berbakat dari Desa Bamban yang belajar tari ke luar desa.
--page
"Jadi sesepuh yang ada di Desa Bamban saat itu berkumpul untuk merumuskan bagaimana memaksimalkan potensi anak-anak serta mengenalkan kembali budaya asli Dayak Maanyan sekaligus melestarikannya," ujar Sabulman.
"Kami juga menyiapkan 2 orang pelatih tari untuk wadian dadas dan wadian bawo," tambahnya.
Dia menuturkan, seiring berjalannya waktu, Sanggar Kawuri Ngamang Talam berkembang cukup baik, terutama setelah mendapatkan bantuan alat-alat musik dari perusahaan tambang yang beroperasi di sekitar wilayah itu.
"Cukup bagus, anak-anak sering manggung kalau ada yang hajatan perkawinan maupun mengikuti festival. Pada festival di Tamiang Layang tahun 2019 kami pernah meraih 5 penyaji terbaik untuk tari pedalaman kategori penari dewasa dan 5 penyaji terbaik untuk kategori penari cilik," ungkap Sabulman.
Dia pengelola sanggar yang lain berharap pandemi ini segera berakhir agar anak-anak binaan Sanggar Kawuri Ngamang Talam yang berjumlah sekitar 30 orang dapat kembali berlatih.
--page
Hingga kini, dari jumlah 25 orang pasien positif covid-19 Barito Timur yang masih dirawat, 3 orang merupakan warga Kecamatan Benua Lima.
"Kalau Kecamatan Benua Lima sudah zona hijau atau paling kurang zona kuning kami ingin mulai aktif latihan kembali, tapi nanti kami tetap akan berkoordinasi dulu denga Satgas covid-19 demi keamanan bersama. Yang latiihan nanti mungkin yang usia SMP dan SMA dulu karena sudah lebih lebih, sedangkan yang usia TK dan SD kami istirahatkan sampai keadaan benar-benar aman," lanjutnya.
Seperti kerinduan para sesepuh di Desa Bamban, ayah dua orang putri ini ingin sanggar tari yang dipimpinnya dapat terus bertahan sehingga anak-anak di wilayah Kecamatan Benua Lima dapat berlatih serta mengenal tarian dan budaya khas Dayak Maanyan di sanggar itu.
"Supaya anak-anak kita paham, mencintai dan bisa menampilkan tarian Dayak Maanyan. Dengan cara seperti ini warisan adat dan budaya Dayak Maanyan tidak punah tergerus oleh perkembangan zaman. Mereka juga bisa meneruskan atau mengajarkan tari-tarian ini kepada generasi berikutnya sehingga tetap lestari," pungkas Sabulman. (BOLE MALO/B-5)









