BORNEONEWS, Sampit - Teror kemunculan beruang masuk ke permukiman warga, di Sampit, Kotawaringin Timur diyakini bakal terus terjadi. Faktor cuaca yang terjadi beberapa bulan belakangan ini menjadi penyebabnya.
Komando Balai Konservasi Sumber Daya (BKSDA) Pos Jaga Sampit, Muriansyah mengatakan cuaca saat ini mengakibatkan habitat beruang mengalami kekeringan dan kekurangan makanan.
"Di lokasi beruang tinggal, saat ini mulai mengalami kekeringan dan kekurangan makanan. Sehingga beruang memasuki perkebunan, perladangan dan permukiman warga," jelas Muriansyah, Minggu 4 Juli 2021.
Data BKSDA sekitar empat tahun terakhir ini menunjukkan kemunculan beruang akan terus berlanjut dan kemungkinan baru akan berkurang pada akhir tahun.
"Kemungkinan kemunculan beruang berkurang saat bulan November atau Desember nanti," ujarnya.
--page
BKSDA mendata laporan kemunculan beruang terjadi sejak bulan Mei. Berlanjut pada Juni dan Juli ini. Lokasi kemunculan beruang yang dilaporkan berada di wilayah Kecamatan Mentawa Baru Ketapang Baamang, Kecamatan Kotabesi dan Kecamatan Cempaga.
"Ya karena di areal tersebut masih ada minuman di parit kebun atau ladang masih ada air, belum kering dan ada makanan," tambahnya.
Makanan tersebut berupa buah-buahan yang ditanam warga seperti nanas, nangka. Selain itu juga ternak warga seperti ayam. Selain itu juga karena adanya sampah rumah tangga yang dibuang sembarangan oleh warga.
Baru-baru ini dilaporkan kemunculan beruang oleh warga di Jalan Lingkar Kota Utara Sampit dekat sebuah bengkel pada 17 dan 30 Juni. Di lokasi tersebut juga sudah dipasang perangkap yang berjarak 1 kilometer dari bengkel. Namun beruang yang menjadi target evakuasi tak kunjung masuk perangkap. (MAGANG 2/B-6)









