SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Titik panas kembali muncul di Kotawaringin Timur. Titik panas kali ini terdeteksi di wilayah Selatan Kotim yakni di Kecamatan Pulau Hanaut.

"Ya, titik panas tersebut indikasi adanya kebakaran hutan dan lahan," ungkap Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi H Asan Sampit, Musuhanaya, Selasa, 2 November 2021.

Titik panas di Kotawaringin Timur terbilang tak menentu. Setiap harinya lokasi kemunculan dapat berubah, bahkan bisa sama sekali nihil. Ini tergantung dengan terjadinya hujan di suatu wilayah. Bila terjadi hujan kondisi daratan akan lembab dan biasanya minim ditemukan titik panas yang terpantau satelit. 

Sementara itu, perkembangan kondisi cuaca di Kotawaringin Timur, secara keseluruhan berpotensi terjadi hujan. Ini ditandai dengan pertumbuhan awan hujan yang merata di seluruh kabupaten itu.

Lalu prakiraan selama 24 jam berdasarkan model integrated forecasting system oleh BMKG, Kotawaringin Timur berpotensi terjadi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang. 

--page

Terkait titik panas di wilayah Selatan, Kotawaringin Timur, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mengungkap di kawasan itu merupakan paling rawan terjadi kebakaran hutan dan lahan. Di antaranya, Kecamatan Teluk Sampit dan kecamatan sekitarnya.

"Karena struktur wilayah di sana merupakan tanah gambut, yang jika terbakar akan mudah menyebar dan membutuhkan waktu lama untuk dipadamkan," kata Kepala BPBD Kotim, Rihel. 

Sedangkan wilayah Utara , seperti Kecamatan Antang Kalang, struktur tanahnya kebanyakan mengandung mineral, apabila terbakar akan lebih cepat dipadamkan. 

“Kalau di Utara walau terbakar tapi sebentar saja, bisa segera padam. Tapi jejaknya memang masih terdeteksi sebagai hotspot kalau dari satelit,” tandasnya. (USAY NOR RAHMAD/B-7)