KEPALA Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Kapuas, Saleh Makki akan membuat sumur bos disejumlah kecamatan yang rawan bahaya kebakaran hutan, lahan, dan pekarangan.
Anggaran pembuatan sumur bor akan diambilkan dari dana alokasi khusus (DAK).
Saleh mengakui ‘merajalelanya’ kebakaran hutan dan lahan saat musim kemarau, sehingga sulit diatasi, karena salah satu pemicunya karena ketiadaan stok air.
Atas pengalaman itulah tahun ini dia memprogramkan pembuatan sumur bor, sehingga bila terjadi kebakaran, maka air dari sumur bor bisa digunakan untuk memadamkan api.
“Daerah rawan terjadinya kebakaran itu seperti Kecamatan Basarang, Kapuas Hilir, Kapuas Timur, Bataguh, Kapuas Murung, dan Pulau Petak,” kata Saleh, Kamis (21/1/2016).
Program pembuatan sumur bor yang akan menghabiskan menyedot dana Rp300 juta lebih itu tujuannya untuk menjaga lingkungan jangan sampai hutan dan lahan terbakar.
Sumur bor yang akan dibangun di enam kecamatan itu nantinya akan dihibahkan kepada kelompok masyarakat. “Nanti merekalah yang merawatnya,” ucapnya.
Dia menjelaskan manfaat sumur bor itu selain untuk mengantisipasi kebakaran lahan juga bisa digunakan warga sebagai sumber air bersih.
“Biasanya kalau kemarau, warga sulit mendapatkan air bersih. Nah, sumur bor itu nanti bisa dimanfaatkan untuk mencuci dan lainnya,” tambahnya.
Tarnoto, Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan menerangkan untuk merealisasikan pembangunan sumur bor terlebih dulu akan melakukan survei lapangan.
BLH juga akan mencari kelompok tani mana yang mau merawat sumur bor.
“Soalnya kalau kita serahkan, tapi nanti tidak dirawat ya percuma saja. Lebih baik kita cari orangnya dulu yang mau merawat,” terangnya. (B-6)





