WARGA di sekitar Sungai Mentaya Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan diminta waspada karena saat ini masuk masa rawan sambaran buaya.

Peringatan ini disampaikan oleh Komandan Pos Jaga Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah, Muriansyah di Sampit, Rabu (27/1/2016).


“Evaluasi kami sejak tahun 2012, sambaran buaya sering terjadi antara Januari hingga April setiap tahunnya. Ada yang menyebut karena ini musim kawin, sehingga buaya lebih agresif. Tapi kami tetap melihatnya karena faktor berkurangnya makanan bagi buaya,” kata Muriansyah.


Sejauh ini, insiden buaya menyambar manusia sering terjadi di kawasan muara, yang meliputi Kecamatan Teluk Sampit, Pulau Hanaut, Mentaya Hilir Selatan dan Mentaya Hilir Utara. Keganasan buaya muara itu sungguh mengerikan. Bahkan ada korban yang hingga kini belum ditemukan.


Buaya yang banyak menyerang manusia adalah jenis buaya kodok atau buaya muara, dan bukan buaya capit. Belum diketahui jumlah populasi buaya di kawasan muara Sungai Mentaya. Muriansyah, mengatakan pihaknya akan menggelar survei populasi buaya tahun ini, dengan melibatkan tim ahli.


Muriansyah menduga, rusaknya habitat buaya di kawasan Pulau Lepeh dan sekitarnya, membuat buaya berkeliaran hingga perairan sekitar permukiman. Mereka mencari mangsa untuk bertahan hidup karena di habitat mereka mulai sulit mendapatkan makanan.


“Buaya menyambar manusia karena memang makanan semakin sulit didapat. Walaupun kejadian banyak di muara, tapi kami ingatkan warga di Kecamatan Ketapang dan Baamang juga waspada. Buaya ini hidup dan bisa saja menyasar hingga ke kawasan lain. Makanya harus berhati-hati saat beraktivitas di sungai,” ucap Muriansyah.


Untuk mencegah korban jiwa, BKSDA sudah memasang rambu peringatan di sejumlah lokasi terkait populasi buaya yang bisa mengancam keselamatan. Masyarakat yang beraktivitas di sungai diminta selalu waspada karena buaya pemangsa bisa muncul kapan saja. (ANT/B-10)