PENDUDUK yang tinggal di pinggir Sungai Mentaya, khususnya yang berada di wilayah selatan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) harus lebih waspada buaya. Pasalnya pada Februari hingga Juni merupakan musim kawin bagi hewan predator ini. Sehingga prilaku buaya akan lebih agresif.


Hal tersebut disampaikan Komandan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sampit, Muriansyah, di mana pada fase kawin buaya akan menjadi agresif terhadap lingkungan sekitarnya. Keagresipan buaya akan terus berlanjut hingga fase pembuahan telur dan telur menetas.


“Agustus-September buaya akan berdiam diri karena mengerami telurnya, hingga nantinya menetas,” ujar Muriansyah.


Sedangkan adanya serangan buaya terhadap manusia di daerah ini disebebkan berkurangnya ketersediaan makanan bagi hewan predator tersebut, dan juga ada indikasi pencemaran di sungai.

Makanan berkurang


Berkurangnya makanan buaya itu bisa terjadi karena kesalahan manusia sendriri. Di mana merusak ekosistem sungai seperti pencarian ikan dalam jumlah besar atau menggunakan potas. Sehingga saat kekurangan makanan, buaya memilih manusia untuk menjadi santapannya.


“Secara umum buaya tidak sengaja memburu manusia, namun karena ada gerakan di sungai seperti mandi, mencuci baju, dan piring, akan menimbulkan gemercik air. Sehingga sensor buaya mengira gerakan tersebut berasal dari makanannya, dan langsung diserangnya,” lanjut Muriansyah.


Beberapa bulan terakhir memang sudah tidak ada lagi warga yang terserang buaya. Namun kali ini Muriansyah khawatir hewan buas tersebut kembali berpindah tempat ke daerah lain. Seperti di daerah Kecamatan Baamang dan Kecamatan Mentawa Baru Ketapang.


“Saya khawatir buaya berpindah ke kota Sampit, karena di daerah selatan tidak ada lagi yang dimangsa,” ucap Muriansyah.


Dirinya berharap hal tersebut tak terjadi lagi. Sehingga aktivitas warga Kota Sampit di pinggiran Sungai Mentaya tidak terganggu. (MH/B-7)