BORNEONEWS, Palangka Raya - Penyakit rabies ternyata memiliki akibat yang tidak main-main karena 100 persen kasus gigitan rabies sebenarnya berakibat kematian. Baik itu pada hewan, maupun manusia.
"Penyakit rabies ini sering diremehkan. Padahal rabies ini sifatnya zoonosis, artinya suatu penyakit yang dapat ditularkan oleh hewan kepada manusia. Terlebih lagi penyakit rabies sangat mematikan dan bisa menyebabkan kematian," kata Kepala UPTD Pusat Kesehatan Hewan atau Puskeswan Kota Palangka Raya, drh Eko Hari Yuwono kepada Borneonews, Senin, 10 Oktober 2022.
Karena itulah bukan tanpa alasan ada yang disebut Hari Rabies Sedunia dan diperingati setiap tanggal 28 September setiap tahunnya. Hal ini mengingat berbahayanya penyakit yang telah dikenal sebagai penyakit zoonosis tertua di dunia ini.
"Penyakit rabies itu 100 persen bisa menyebabkan kematian, baik pada hewan peliharaan maupun pada manusia," tegasnya.
Ciri yang muncul pada penularan rabies di tubuh hewan dan manusia pun cenderung mirip. "Kelebihan air liur, takut pada air, takut melihat cahaya, demam, menggigil itu tanda-tanda rabies yang ada pada hewan. Pada manusia pun gejalanya mirip yaitu air liur yang berlebih, demam, menggigil," jelasnya.
Untuk di Kota Palangka Raya menurut drh Eko ada yang disebut sebagai Rabies Center, yakni di Puskesmas Bukit Hindu. Maka, jika ada masyarakat Kota Cantik yang tergigit hewan penular rabies atau HPR baik itu kucing, anjing, atau kera, diminta untuk segera melapor ke Puskesmas Bukit Hindu dan meminta untuk mendapatkan Vaksin Anti Rabies atau VAR.
--page
"Di Puskesmas Bukit Hindu masyarakat bisa meminta VAR jika tergigit HPR. Ini harus dilakukan sesegera mungkin sejak mendapatkan gigitan tersebut. Kalau bisa, hewannya juga diambil sampelnya untuk diteliti di laboratorium," tegasnya pula. (TESTI PRISCILLA/B-11)









