MEMASUKI Februari 2016, kebutuhan listrik di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) belum juga aman. Hingga Senin (1/2/2016), pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) PT Exploitasi Energi Indonesia (EEI) Kumai belum mampu memenuhi kerjasama daya listrik sekitar 10 megawatt (mW) kepada Perusahaan Listrik Negara (PLN) Persero Rayon Pangkalan Bun.
Supervisor Teknik Jaringan PLN Rayon Pangkalan Bun, Suprapto mengungkapkan, pihaknya sudah menyiapkan jadwal pemadaman listrik secara bergilir untuk wilayah Kobar dan sekitarnya hingga 29 Februari mendatang. Penyiapan jadwal pemadaman tersebut merupakan langkah antisipasi, lantaran pihak PLTU belum dapat memberi kepastian kapan perbaikan unit turbinnya yang rusak selesai dikerjakan. "Sebenarnya itu (jadwal) hanya untuk antisipasi saja. Kalaupun dalam sepekan nanti PLTU kembali pulih. Maka pemadaman listriknya tidak perlu dilakukan sampai akhir bulan," ujar Suprapto, Senin (1/2/2016).
Suprapto menjelaskan, dengan kondisi listrik demikian, daya mampu PLN akan menyesuaikan beban listrik. Dengan kendala suplai daya PLTU PT EEI Kumai, defisit daya yang dialami PLN sekitar 5 megawatt (mW). Sementara, pada Minggu (31/1/2016) malam, beban puncak listrik PLN tercatat mencapai sekitar 26 mW.
Terpisah, Plant Manager PLTU PT EEI Kumai, Dharmawan mengaku belum dapat menyelesaikan persoalan kendala operasi produksi listrik yang terjadi di salah satu turbin pembangkitnya. Sehingga dirinya belum berani memperkirakan, kapan operasi produksi dan suplai daya listrik ke PLN kembali normal. "Apakah seminggu atau lebih. Saya belum berani beri kepastian. Karena komponen (chain grid) yang bermasalah ini cukup rumit dan banyak sekali," ujar Dharmawan, Senin (1/2/2016).
Sementara itu, pemadaman listrik bergilir membuat pelaku usaha merugi. General Manager Swiss Belinn Hotel Pangkalan Bun, Ali Alimin mengatakan, untuk menghidupkan mesin genset di hotel yang dikelolanya membutuhkan 50 liter dalam jangka satu jam. "Wah repot, satu jam aja kami butuh 50 liter, kalikan berapa jam dan berapa hari. Dalam satu,bulan pengeluaran bisa makin membengkak," katanya. (RD/CP/B-2)
Supervisor Teknik Jaringan PLN Rayon Pangkalan Bun, Suprapto mengungkapkan, pihaknya sudah menyiapkan jadwal pemadaman listrik secara bergilir untuk wilayah Kobar dan sekitarnya hingga 29 Februari mendatang. Penyiapan jadwal pemadaman tersebut merupakan langkah antisipasi, lantaran pihak PLTU belum dapat memberi kepastian kapan perbaikan unit turbinnya yang rusak selesai dikerjakan. "Sebenarnya itu (jadwal) hanya untuk antisipasi saja. Kalaupun dalam sepekan nanti PLTU kembali pulih. Maka pemadaman listriknya tidak perlu dilakukan sampai akhir bulan," ujar Suprapto, Senin (1/2/2016).
Suprapto menjelaskan, dengan kondisi listrik demikian, daya mampu PLN akan menyesuaikan beban listrik. Dengan kendala suplai daya PLTU PT EEI Kumai, defisit daya yang dialami PLN sekitar 5 megawatt (mW). Sementara, pada Minggu (31/1/2016) malam, beban puncak listrik PLN tercatat mencapai sekitar 26 mW.
Terpisah, Plant Manager PLTU PT EEI Kumai, Dharmawan mengaku belum dapat menyelesaikan persoalan kendala operasi produksi listrik yang terjadi di salah satu turbin pembangkitnya. Sehingga dirinya belum berani memperkirakan, kapan operasi produksi dan suplai daya listrik ke PLN kembali normal. "Apakah seminggu atau lebih. Saya belum berani beri kepastian. Karena komponen (chain grid) yang bermasalah ini cukup rumit dan banyak sekali," ujar Dharmawan, Senin (1/2/2016).
Sementara itu, pemadaman listrik bergilir membuat pelaku usaha merugi. General Manager Swiss Belinn Hotel Pangkalan Bun, Ali Alimin mengatakan, untuk menghidupkan mesin genset di hotel yang dikelolanya membutuhkan 50 liter dalam jangka satu jam. "Wah repot, satu jam aja kami butuh 50 liter, kalikan berapa jam dan berapa hari. Dalam satu,bulan pengeluaran bisa makin membengkak," katanya. (RD/CP/B-2)





