DINAS Pertanian dan Peternakan (Distanak) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) mengklaim sejak 2015 hingga awal 2016, terjadi surplus produksi padi sebesar 170 ribu ton. Kepala Distanak Kalteng, Tute Lelo, mengklaim surplus ini terjadi karena keberhasilan Kalteng dalam menjalankan program produksi padi 1 juta ton yang dicanangkan Presiden Joko Widodo.
Namun, ungkap Tute, keberhasilan panen ini tidak dinikmati secara maksimal oleh masyarakat Kalteng. Ia mengatakan, para petani lebih memilih untuk menjual hasil panennya ke luar Kalteng. Tute menyebut, hal ini terjadi karena biaya transportasi untuk memasarkan hasil panen ke luar daerah lebih murah.
“Misalnya petani dari daerah Pagatan, Kabupaten Katingan, hampir seluruhnya lari ke provinsi tetangga (Kalimantan Selatan). Alasannya karena transportasinya lebih murah dibandingkan jika harus dijual di Palangka Raya,” ungkap Tute, di Palangka Raya, Senin (1/2/2016).
Angka penjualan beras lokal cukup tinggi, 60-70 persen. Menurut Tute, kondisi ini juga karena Perum Bulog memberikan harga terlalu rendah terhadap petani lokal.
“Di sinilah saya rasa pentingnya peran perusahaan daerah (Perusda). Bagaimana seharusnya mereka mengelola gabah atau beras hasil petani di daerahnya masing-masing, mengingat usaha ini cukup menjanjikan. Kalau begini malah gabah petani kita dibawa keluar daerah terus berasnya dijual kembali ke Kalteng, ya mahal dia,” lanjut Tute.
Tute menandaskan, kondisi ini juga menjadi pemicu naiknya harga beras di Provinsi Kalteng. (TP/B-10)


