BORNEONEWS, Palangka Raya - Jaringan Ahli Perubahan Iklim dan Kehutanan Indonesia atau APIK Indonesia Network menggelar Webinar Diseminasi Riset APIK Indonesia Network terutama mengenai keanekaragaman hayati pada Selasa, 18 Oktober 2022.
Webinar bertajuk "Potensi, Kerentanan, dan Konservasi Keanekaragaman Hayati Hutan Tropis" ini dibuka oleh Ketua Umum APIK Indonesia Network dari Universitas Indonesia, Dr Mahawan Karuniasa dan dimoderatori oleh Koordinator Region Maluku APIK Indonesia Network dari Universitas Pattimura, Dr Fransina Latumahina serta menghadirkan tiga orang narasumber.
Narasumber yang dihadirkan dalam kegiatan yang dilaksanakan pada Selasa, 18 Oktober 2022 pukul 13.00 WIB ini yakni Prof Rahmawaty dari Universitas Sumatera Utara yang membawa materi Peran SIG dalam Konservasi dan Pengelolaan Sumberdaya Hutan dan Lingkungan. Kemudian ada Prof Agus Susatya dari Universitas Negeri Bengkulu yang membawa materi Memahami Hutan Tropika: Antara Kekayaan dan Kerentanan Kepunahan Jenis. Selain itu ada pula Dr Agus Setiawan dari Universitas Lampung yang membawa materi Konservasi Keanekaragaman Hayati Indonesia.
"Saat ini keanekaragaman hayati baik itu flora dan fauna yang harus dilindungi Indonesia bertambah jumlahnya. Kita bukannya harus bangga dengan penambahan ini karena ini artinya semakin banyak yang hampir punah sehingga harus dilindungi," kata Dr Agus Setiawan dari Universitas Lampung dalam materinya.
Dia memaparkan hasil-hasil penelitian dari tahun ke tahun mengenai semakin banyaknya keanekaragaman hayati yang hampir punah sehingga perlu untuk dilindungi.
Sementara itu, Prof Rahmawaty dari Universitas Sumatera Utara yang membawa materi Peran SIG dalam Konservasi dan Pengelolaan Sumberdaya Hutan dan Lingkungan mempertanyakan apakah berbagai hasil penelitian yang dipaparkan dalam webinar kali ini telah dimasukkan ke dalam SIG.
"SIG ialah Sistem Informasi Geografis yang merupakan peralatan analisis, jadi bukan semata mata sistem komputer pembuat peta, yang membentuk kumpulan layer dan atribut dalam basis data serta mengakses atribut melalui lokasi-lokasi unsur-unsur peta. Jadi ketika saya melihat hasil-hasil penelitian yang dipaparkan tadi begitu menariknya, saya minta agar penelitian-penelitian itu tidak lupa untuk dimasukan dalam SIG ini karena begitu menarik, sayang jika tidak terekam dengan baik di dalam sistem," tutur Profesor di Universitas Sumatera Utara ini. (TESTI PRISCILLA/B-6)









