Berdasarkan hasil penelitian dari  Balai Penyidikan dan Pengujian Veteriner (BPPV) Regional V Banjarbaru yang baru diterima oleh Dinas pertanian dan peternakan (Distanak) Kotawaringin Barat (Kobar) pada awal Februari ini, sebagian besar sampel otak anjing yang dikirimkan untuk diteliti ternyata terbukti terjangkit virus Lyssa atau virus yang menyebabkan rabies pada anjing.

Pasalnya 9 sampel yang dikirimkan dari anjing yang berhasil ditangkap dan di eliminiasi, dari sejak Desember 2015 dan Januari 2016 dari hasil penelitian BPPV Banjarbaru semuanya positif rabies.

Menurut Kepala Distanak Kotawaringin Barat (Kobar) Rosehan Pribadi melalui Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Perlindungan Tanaman Distanak Kobar Haryo Prabowo Jumat (5/2/2016) menjelaskan sampel otak tersebut didapatkan dari lokasi yang terdapat kasus gigitan anjing kepada manusia dan hewan tersebut berhasil ditangkap.

"Sampel otak anjing tersebut berasal dari wilayah yang terdapat kasus gigitan anjing, diantaranya Desa Natai Baru, Pasir Panjang, Madurejo dan Pelingkau. Walau demikian dari beberapa tempat yang terjadi kasus gigitan, ada juga anjing yang gagal kita tangkap atau tembak. Hewan tersebut berhasil meloloskan diri masuk hutan. Sedangkan sampel otak anjing yang behasil ditangkap kamis (4/2/2016) kita telah kirimkan ke BPPV Banjarbaru Jumat (5/2/2016) pagi," jelasnya.

Lantaran masih terjadi kasus gigitan anjing yang terindikasi rabies, menurutnya keberadaan anjing di lingkungan tempat tinggal, harus diwaspadai masyarakat.

"Diharapkan kesadaran pihak Rukun Tetangga (RT) bisa tanggap dan mengkoordinir warganya untuk mengumpulkan para pemilik anjing. Tujuannya agar bisa memastikan bahwa anjing peliharaan warga tersebut bisa mendapatkan vaksin anti rabies. Sehingga petugas dari Distanak bisa memberkan vaksin secara efektif.  Hal ini sebagai langkah antisipasi atau pencegahan tertularnya anjing peliharaan warga dari anjing liar yang terindikasi terjangkiti Lyssa Virus," jelasnya. (YD)