SEJUMLAH tokoh dari organisasi massa (ormas), organisasipemuda, dan tokoh agama berkumpul di Palangka Raya, Minggu (14/2). Tujuannya,menyikapi aksi sekelompok masyarakat yang menuding telah terjadi kecurangan ataspelaksanaan Pilgub Kalteng.  KPU Kalteng telahmenetapkan pasangan urut 1 Sugianto Sabran-Habib Said Ismail (SOHIB) sebagaipemenang.

Mereka menyerukan rakyat Kalteng tenang, menahan diri, dantidak melakukan aksi seperti pengadilan jalanan. Sebaliknya, menghormati tahapPilkada yang kini berproses hukum di Mahkamah Konsitusi (MK).

Tokoh yang hadir adalah KH Anwar Isa, Said Ahmad FauziBachsin, Wahyudie F Dirun, dari Ormas Nahdlatul Ulama (PWNU) Kalteng, YansenBinti (Gerdayak Kalteng), Suhardi (GP ANSOR Kalteng), kemudian tokoh KaltengLukas Tingkes, Napa J.Awat, Judae Anom, Pendeta Cristianus Udha, dan Bajik RSimpei.

Selain tokoh di atas, ikut termasuk penyusun pernyataan sikap adalah Yamindan Abdullah Syairi dari PW Muhammadiyah Kalteng, Ahmad Diran, Lewis KDR,Walter S Penyang, Ketua ikatan Alumni PMII Kalteng Awaluddin Noor, dan KetuaKAHMI Kalteng Rusliansyah.

Dalam pernyataan sikap yang dicetuskan, mereka menegaskanpertandingan demokrasi di Kalteng sudah selesai. Dalam arena pertandingan,tentu ada yang menang dan ada yang kalah. Tidak pada tempatnya untuk menolak prosesyang berjalan hingga pleno penetapan, apalagi melontarkan SMS ancaman atauteror kepada komisioner KPU Kalteng.

“Untuk menjaga suasana yang kondusif, kami mengimbau segenapmasyarakat untuk menahan diri tidak memancing atau terpancing suasana yangmenimbulkan keresahan di tengah masyarakat,” bunyi pernyataan sikap yangdibacakan Wahyudi dari PWNU Kalteng.

Lintas tokoh tersebut menyampaikan apresiasi mendalam atassikap pasangan calon nomor 2 Willy-Wahyudi (Wibawa) yang memilih jalur hukumatas hasil perhitungan suara dengan membawa sengketa kasusnya ke MK.

“Sehubungan dengan sikap paslon nomor 2 itu, kami memintasegenap pihak untuk menahan diri menunggu keputusan MK, tidak melakukan aksiseperti pengadilan jalanan yang dapat memicu aksi tandingan dari kelompok lainyang berdampak pada in-stabilitas keamanan,” lanjutnya.

Karena berpotensi memicu aksi tandingan oleh kelompok laintersebut, para tokoh meminta aparat untuk bersikap tegas dan tidak mentoleriratas aksi apapun yang bisa membuat suasana daerah jadi tidak kondusif. (RZ/*)