BORNEONEWS, Palangka Raya - Kepala UPT Puskeswan Kota Palangka Raya, drh Eko Hari Yuwono membeberkan alasan mengapa masih ada kasus rabies di Kota Cantik padahal capaian vaksin rabies sudah tinggi.
"Kenapa masih ada rabies padahal dari populasi hewan domestik di Palangka Raya yang mencapai 9.000-10.000, tahun lalu kita berhasil memvaksin 8.731 ekor artinya target yang hanya 70 persen sementar kita di atas 80 persen. Kenapa masih ada rabies? Pertama karena banyak hewan liar," kata drh Eko kepada Borneonews pada Selasa, 23 Februari 2023.
Hewan liar yang dimaksud drh Eko adalah hewan penular rabies atau HPR yang tidak bisa ditangkap, bahkan oleh pemiliknya sendiri.
"Karena cara merawatnya adalah dilepasliarkan sehingga pemilik pun tidak mampu menangkapnya makanya HPR itu tidak bisa divaksin rabies. Karena tidak bisa divaksin rabies, tertularlah dia saat berada di jalanan. Makanya ada kasus yang menggigit kurir di Kelurahan Pahandut itu kan," terang drh Eko lagi.
Alasan kedua, lanjutnya, perkembangbiakan HPR sangatlah cepat. HPR seperti anjing dan kucing menurutnya bisa melahirkan sampai 3 kali setahun sementara vaksinator hanya melakukan vaksin setahun sekali.
"Umur berapa HPR sudah bisa divaksin, minimal usia 2 bulan sudah bisa. Jadi kalau ada vaksinator menemukan anak anjing atau kucing usia 2 bulan, berikan saja langsung vaksinnya beserta kepada indukannya. Karena perkembangbiakannya sangat cepat, bisa saja yang divaksin tahun depan itu bukan populasi yang sama lagi," beber Ketua Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia atau PDHI Kalteng ini lagi.
Alasan ketiga, katanya, ialah pembangunan kota yang sangat cepat, bersama dengan penambahan penduduk. Secara cepat, akan ada perumahan baru yang bisa saja tidak tertangkap mata oleh vaksinator sehingga HPR di perumahan itu tidak mendapat vaksin rabies.
"Keempat, karena tingkat peracunan anjing tinggi sehingga metode pemeliharaan berubah. Kadang tidak kelihatan dari luar karena ditaruh di bagian belakang rumah. Karena itu vaksinator kami minta harus komunikatif," tutupnya. (TESTI PRISCILLA)









