ERA modern seperti saat ini, makin sulit mencari seorang pemandi jenazah muslim terutama di kawasan kota termasuk Kota Cantik Palangka Raya. Banyak remaja yang sudah enggan melanjutkan atau mewarisi pekerjaan sosial itu sehingga jumlahnya semakin menipis.
Yang banyak saat ini dominan generasi tua. Sehingga perlu upaya regenerasi bagi generasi muda.
Lebih sulitnya lagi, mencari pemandi jenazah untuk jenis kelamin perempuan. Ini diakui salah satu pengurus Nahdlatul Ulama (NU) Kota Palangka Raya, M Sahrun. Karena itu menurut dia, perlu dan mendesak regenerasi bagi generasi muda perempuan. Sebab yang namanya fardlu kifayah, jika tidak ada salah satu yang mengurus pekerjaan itu, seluruh umat islam akan mendapat dosanya.
“Di Palangka Raya ini, pengalaman membuktikan susahnya mencari pemandi perempuan. Karena itu, perlu pelatihan dan kaderisasi bagi perempuan,” ungkap Sahrun kepada Borneonews, Minggu (27/3/2016).
Karena itu, lanjut dia, saat pelatihan fardhu kifayah mulai dari memandikan jenazah, mengkafani, menyolatkan sampai menguburkan, sengaja pihaknya lebih banyak sasaran bagi kader perempuan.
“Sengaja kita cari 70% perempuan dan 30% laki laki untuk pelatihan fardhu kifayah yang kami gagas. Diharapkan memberi pengetahuan dan keterampilan,” pungkasnya.
Sebelumnya, regenerasi bagi pengurusan jenazah atau lazim disebut Fardhu Kifayah di Kota Palangka Raya dalam jumlah minim, disinggung Wakil Wali Kota Palangka Raya, Mofit Saptono Subagio. Bahkan ia berani menyebut, saat ini banyak didominasi kaum tua.
Karena itu ia mengharap adanya peran maksimal organisasi masyarakat (ormas) keagamaan untuk melakukan pelatihan Fardhu kifayah tersebut guna kelangsungan regenerasi kepada generasi muda. Harapan itu dicetuskannya saat menghadiri kegiatan pelatihan Fardhu kifayah yang digagas Pengurus Cabang Nahdatul Ulama (PCNU) Kota Palangka Raya, di SMA Nahdatul Ulama jalan RTA Milono, beberapa waktu lalu.
(RZ/B-12)


