BORNEONEWS, Nanga Bulik – Mencegah kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Lamandau, Kejaksaan Negeri (Kejari) setempat terus melakukan koordinasi dengan pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lamandau.
Kepala Kejari (Kajari) Lamandau, Hendra Jaya Atmaja mengungkapkan, koordinasi tersebut terkait potensi terjadinya karhutla akibat fenomena El Nino sehingga menyebabkan kemarau panjang di tahun 2023.
Informasi yang diperoleh, terang Hendra, bahwa peluang curah hujan di tahun 2023 ini rata-rata rendah (curah hujan 100 mm/bulan). Kondisi tersebut sangat rawan terjadi Karhutla.
“Diperkirakan pada bulan Juli sampai Agustus beresiko muncul sejumlah hotspot dengan kategori moderate,” terang Kajari di Nanga Bulik, Minggu, 11 Juni 2023.
Sementara, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Iskandar, Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) memprediksi akan ada banyak titik panas (hotspot) yang muncul di bulan Juli hingga Agustus.
--page
Kepala Stasiun Meteorologi kelas III Iskandar Pangkalan Bun, Aqil Ihsan menjelaskan jika kondisi tersebut merupakan dampak dari fenomena El Nino. Karena kondisi yang kering, pontensi munculnya hotspot semakin tinggi.
Terkait hotspot di Kabupaten Lamandau, sepekan terakhir, berdasarkan pantauan citra satelit (Terra, Aqua, S-NPP & NOAA20) terpantau 3 titik panas muncul di wilayah tersebut.
“Sedangkan untuk tingkat kemudahan terbakar di wilayah Lamandau, pada pertengahan minggu ini mulai berpotensi sangat mudah terbakar dikarenakan kondisi tanah yang kering,” imbuhnya. (HENDI NURFALAH/J)









