BORNEONEWS, Palangka Raya - Ketua Program Studi Magister dan Doktor Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan atau PSL Universitas Sumatera Utara atau USU, Profesor Rahmawaty mengatakan bahwa Tridharma Perguruan Tinggi wajib untuk diterapkan oleh akademisi dalam kehidupan sehari-hari.
Hal ini disampaikannya saat menjadi pembicara dalam Webinar Nasional yang mengangkat tema Potensi Perkembangan Mangrove di Kawasan Lesser Sunda.
Dalam ekspedisi Lesser Sunda ini misalanya, kata Prof Rahmawaty, para akademisi bisa melakukan berbagai program yang mengacu pada tridharma perguruan tinggi, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat.
"Di bidang pendidikan, kawasan mangrove Lesser Sunda bisa menjadi laboratorium program studi terkait," tuturnya.
Guru besar ilmu kehutanan ini mencontohkan USU termasuk dirinya, sudah banyak melakukan kegiatan pendidikan dan penelitian di kawasan mangrove sebagai kewajiban dosen dan mahasiswa. Langkah serupa juga bisa menurut dilakukan oleh perguruan tinggi di Lesser Sunda, khususnya Universitas Mataram yang menjadi tuan rumah penyelenggaraan webinar tersebut.
--page
"Peran perguruan tinggi ialah dengan melakukan penelitian ilmiah, seminar, lokakarya, konferensi, publikasi nasional dan internasional, menjadi tenaga ahli di beberapa instansi, dan sebagainya," katanya.
Pihaknya sendiri, lanjut Prof Rahmawaty, juga aktif bekerjasama dengan instansi pemerintah dan pelaku usaha dalam melakukan berbagai program yang menjadi ranah akademisi.
"Kawasan mangrove di Lesser Sunda yang meliputi kepulauan di Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur memiliki potensi pengembangan pariwisata. Perguruan tinggi yang ada di Bali, NTB, dan NTT perlu berkolaborasi untuk melakukan pemetaan seluruh kawasan mangrove di Lesser Sunda," tegasnya.
Potensi mangrove di Lesser Sunda menurutnya sangatlah besar, namun masih kurang data untuk bisa dijadikan rujukan dalam pengembangannya. (TESTI PRISCILLA/H)









