PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Staf Ahli Konektivitas, Pengembangan Jasa, dan Sumber Daya Alam, Dr Musdalifah Mahmud menegaskan komitmen Indonesia terhadap produksi dan perdagangan minyak kelapa sawit yang berkelanjutan.

Hal ini disampaikan Musdalifah dalam pertemuan Epistemic Community and Market Forum atau ECMF pada tanggal 30 November dan 1 Desember, yang mengumpulkan lebih dari 50 pemangku kepentingan dari berbagai sektor, termasuk pemerintah, swasta, LSM, dan akademisi seperti dalam rilis Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit atau BPDPKS pada Sabtu, 9 Desember 2023.

Sementara itu, Co-Founder Competere Italia, Prof Pietro Paganini, menyuarakan kebutuhan konsultasi antara Uni Eropa, negara produsen, dan petani kecil komoditas dalam pembuatan kebijakan.

"Jumlah petani kecil yang fokus pada kelapa sawit di Indonesia hanya sekitar 40-42 persen, jauh lebih kecil dibandingkan dengan sektor kopi, kakao, dan karet," katanya.

Sementara itu, Kepala Pusat Strategi Kebijakan Multilateral, Rio Budi Rahmanto, mengingatkan bahwa hingga saat ini, EUDR belum mempertimbangkan upaya dan capaian keberlanjutan yang sudah ada. Ia menyatakan keprihatinan bahwa kebijakan ini dapat mengeksklusifkan petani kecil Indonesia dari pasar Uni Eropa.

--page

Melalui survei, peserta forum menegaskan pentingnya memastikan partisipasi inklusif petani kecil Indonesia. Spanyol dan Italia, bersama Indonesia, diharapkan dapat bersinergi untuk memastikan keberlanjutan industri minyak kelapa sawit dan komoditas pertanian lainnya. Terus terbuka dialog dengan Uni Eropa dianggap sebagai langkah kunci untuk memastikan kebijakan yang adil dan inklusif bagi petani kecil Indonesia di pasar internasional.(TESTI PRISCILLA)