BORNEONEWS, PANGKALAN BUN - Sebanyak 10 dari total 33 korban penipuan haji dan umroh senilai Rp2,5 miliar lebih melapor ke Polres Kobar, Senin (16/5/2016) siang. Puluhan korban tersebut berasal dari beberapa Kecamatan di Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Mereka melaporkan penipuan yang dilakukan Irianur (60), perantara agen travel haji dan umroh, di Jakarta, PT Chanes Tour and Travel.

"Kami dijanjikan berangkat Januari 2016, tapi sampai saat ini sudah enam kali dijanjikan, batal terus. Kami minta pertanggungjawabannya," kata Nuriseh (70), warga Desa Sagu, Kecamatan Kotawaringin Lama, Kobar, usai melapor ke bagian SPKT Polres Kobar, siang ini.

Nuriseh, calon jemaah haji plus yang gagal berangkat. Dia merasa tertipu karena setiap dijanjikan mau berangkat selalu gagal. Februari 2015 mereka mendaftarkan diri dan menyerahkan uang pendafratan untuk keberangkatan kepada pelaku. Dari 30 korban tersebut, 13 orang calon jemaah umroh dan 20 orang calon jemaah haji plus.

Total uang yang sudah diserahkan oleh para calon umroh ke pelaku sebanyak Rp390 juta. Sementara, sisanya sebanyak 20 orang korban calon jemaah haji plus sudah menyerahkan total uang Rp2,2 miliar. Dengan biaya perorang Rp110 juta. Total uang yang sudah dikumpulkan Irianur dari para korban Rp2,59 miliar.

"Iriyanoor itu kan ustaz, dia sering ceramah keliling dan menawarkan keberangkatan haji dan umroh. Saya ikut daftar dari tahun 2015 dan sudah selamatan di rumah, tapi sampai sekarang tidak jadi berangkat," kata Nuriseh.

Korban lainnya, Anang Hermanudin (63) warga jalan Pasanah RT12 kelurahan Madurejo Pangkalan Bun saat ditemui Borneonews di kantor SPKT menyesal telah mendaftar ke pelaku. 

Anang Hermanudin mendaftar sebagai calon umroh bersama istrinya. Ia mengaku sudah menyerahkan uang senilai Rp55 juta kepada Iriyanoor. Sama dengan korban lainnya, Anang Hermanudin gagal berangkat setelah dijanjikan sebanyak enam kali. "Terakhir saya dijanjikan berangkat tanggal 13 bulan ini. Tapi gagal lagi. Padahal keberangkatan sudah kami persiapkan."

Anang Hermanudin sudah menyerahkan kasus ini kepada polisi. Dia berharap pelaku segera tertangkap dan mengembalikan uang yang sudah disetorkan. "Kami minta dikembalikan saja uangnya kalau tidak bisa berangkat, jangan janji-jani terus," katanya

Samsudin, salah satu perwakilan keluarga yang mendaftar sebagai calon umroh menuturkan alasan yang dikemukakan pelaku, karena paspor dan visa belum selesai. Padahal, paspor dan visa yang dibuat puluhan korban di kantor Imigrasi di Kota Sampit sudah selesai dan kini ada di tangan pelaku. (CECEP HERDI/N)