BORNEONEWS, Sampit - Suara isak tangis seorang anak pecah ketika memasuki Intalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD dr Murjani Sampit, Senin, 20 Mei 2024.
"Adik," teriak anak kecil berpakaian merah jambu yang terbaring di salah satu ranjang IGD.
Ia masih berusia 6 tahun dan harus menanggung trauma akibat kehilangan kedua orang tua dan seorang adiknya dalam sebuah kecelakaan maut di Jalan Poros Kecamatan Parenggean pada Minggu, 20 Mei 2024.
"Atas nama pemerintah daerah, kami turut berbela sungkawa dan sedih atas kejadian kecelakaan di Desa bajarau, Kecamatan parenggean yang mana untuk saat ini korban adalah satu keluarga yang mengakibatkan meninggalnya ayah, ibu dan adik dari anak berusia 6 tahun ini," kata Wakil Bupati Kotawaringin Timur (Kotim) Irawati, Senin, 20 Mei 2024.
Dirinya berusaha membantu satu-satunya korban selamat dari kecelakaan sepeda motor dengan truk CPO tersebut agar mendapat penanganan medis secepatnya.
--page
Sebab kondisi patah tulang kaki anak tersebut cukup serius dan trauma yang menghantuinya membuat bocah perempuan itu tek henti menangis kecuali saat sedang tertidur.
Orang-orang di sekelilingnya yang berupaya membantu anak tersebut di IGD RSUD dr Murjani pun ikut meneteskan air mata melihat nasib pilu anak perempuan itu.
Irawati menghubungi pihak perusahaan tempat korban ayah berinisial YMS (34) bekerja namu tidak dapat terhubung. Sang ayah tersebut bekerja di PT SCC Kecamatan Cempaga Hulu, sehingga dirinya meminta Camat terus memantau agar perusahaan memberikan bantuan terhadap anak malang itu.
Hingga akhirnya, dirinya menghubungi Kepala BPJS Ketenagakerjaan setempat agar diberi bantuan rujukan ke rumah sakit di Palangka Raya untuk tindakan operasi patah kaki anak tersebut.
"Kita berupaya mencari rujukan tercepat. Di RSUD dr Doris Sylvanus harus menunggu antrian 2 minggu untuk operasi, sehingga hari ini kami langsung meminta rujukan ke RS Betang Pambelum di Palangka Raya," ujarnya.
--page
RS Betang Pambelum bisa menerima rujukan anak tersebut dan langsung dilakukan tindakan operasi untuk patah kakinya. Disisi lain pihaknya terus berupaya menghubungi perusahaan sang ayah bekerja, karena biaya pengobatan anak tersebut ditaksir lebih dari Rp 60 juta sementara anggaran Jasa Raharja yang saat ini bisa mengcover operasi tersebut hanya Rp 25 juta.
Anak malang tersebut akan didampingi Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Lentera Kartini selama proses rujukan di Palangka Raya hingga keluarganya datang. Karena korban kecelakaan tersebut merupakan perantau dan tidak memiliki keluarga lain di Kotim.
Sementara itu, jenazah ayah YMS (34), ibu RS (30) dan adik bungsunya dipulangkan ke Medan melalui penerbangan Palangka Raya-Jakarta-Medan pukul 03.00 WIB. Jenazah tersebut dijemput keluarga korban di Palangka Raya sekaligus keluarga dari Medan tersebut mendampingi korban selamat di RS Betang Pambelum untuk pengobatan.
"Kami meminta perusahaan betul-betul anak ini agar bisa dilayani untuk penanganan medisnya karena selain trauma akibat kecelakaan yang paling tragisnya adalah kehilangan orang-orang tersayang. Dia terus menangis mencari Ayah, Ibu dan adiknya," tandasnya.
Sebelumnya diberitakan, insiden kecelakaan maut terjadi di Jalan Poros, Kecamatan Parenggean, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Minggu, 19 Mei 2024. Dalam peristiwa itu, tiga orang meninggal dunia di tempat.
--page
Kasatlantas Polres Kotim AKP Firdaus Canggih menjelaskan peristiwa tersebut, berawal saat truk Crude Palm Oil (CPO) dengan nopol KH 8927 LN melaju di Jalan Poros dari arah pelantaran menuju Parenggean pada jalurnya. Namun saat di lokasi kejadian, truk tersebut turun ke bahu jalan, bermaksud putar balik.
Dari arah belakang jalur yang sama, melaju sepeda motor Yamaha Vega R dengan nopol KH 2653 FD warna hitam yang dikendarai oleh YMS (34) bersama RS (30) istri korban, juga kedua anaknya. Karena jarak yang sudah terlalu dekat akhirnya kecelakaan tidal bisa dihindarkan. Korban terpental hingga ke bahu jalan.
Akibatnya, pasangan suami istri tewas bersama anaknya yang masih berumur 1,5 tahun. Sedangkan salah satu anak korban yang masih berumur 6 tahun, mendapat perawatan di rumah sakit. (DEWI PATMALASARI/H)









