BORNEONEWS, Lamandau - Kabupaten Lamandau akan mengembangkan komoditas kopi dan kakao. Sebenarnya, masyarakat di wilayah Bupati Marukan itu sudah sejak lama melakukan budidaya kopi. Namun, akibat ketidaktahuan dalam hal pemasaran, tidak sedikit yang akhirnya beralih ke tanaman lain yang lebih menjanjikan seperti kelapa sawit dan karet.
"Pemkab berencana melakukan budidaya pengembangan perkebunan kopi dan kakao yang sudah kita tahu juga cocok di daerah Lamandau," ungkap Bupati Lamandau, Marukan, dalam kesempatan kunjungan kerja di Pusat Penelitian (puslit) Perkebunan kopi dan kakao Indonesia, di Jember, Jawa Timur, Rabu (15/6/2016).
Berbicara tentang tanaman kelapa sawit dan karet, dengan adanya fluktuasi harga perkebunan yang sering terjadi pada sawit dan karet akhir-akhir ini, masyarakat juga tidak bisa berbuat banyak. Oleh sebab itu, diperlukan perkebunan lain yang tidak mudah terpengaruh oleh fluktuasi harga.
Bupati Marukan menganggap tidak ada salahnya apabila tanaman Kopi dan Kakao dikembangkan lebih besar lagi di Lamandau. Menurut bupati dua periode itu, tidak terpengaruhnya harga kopi di pasaran jika terjadi fluktuasi, karena kopi tanaman berbasis pangan, sehingga tidak mudah dipermainkan oleh harga di pasar.
Di tempat yang sama, Direktur Puslit Perkebunan Kopi dan Kakao Indonesia, Misnawi, mengatakan tidak perlu waktu lama untuk tanaman kopi bisa berbuah. Saat ini, kata dia, tanaman kopi hanya perlu 2 tahun dari masa penanaman sudah bisa dipanen. Bahkan, tanaman kopi juga bisa ditanam tumpang sari dengan tanaman Lamtoro, karet atau Lada. Sehingga, dalam perkebunan tersebut ada yang dapat dipanen tiap hari, tiap bulan dan 6 bulan sekali. (HENDI NURFALAH/N).








