BORNEONEWS, Palangka Raya - Upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalteng dilakukan berbagai pihak. Salah satunya dengan pembuatan sumur bor di titik-titik yang rawan kebakaran. Selain itu, lebih penting adalah kegiatan pencegahan yang antara lain berupa kegiatan pendampingan dan peningkatan kepasitas masyarakat untuk menjaga hutan.
Seperti yang diinisiasi united nations development programme (UNDP) dan lembaga pendidikan dan pengembangan masyarakat (elPaM). Mereka melaksanakan kegiatan di tiga desa yaitu Kameloh Baru yang masuk kawasan Kota Palangka Raya, serta Desa Taruna dan Tumbang Nusa yang masuk wilayah Kabupaten Pulang Pisau.
“Kami bangun 10 titik sumur yang titik-titiknya ditentukan oleh masyarakat peduli api (MPA) karena mereka lebih tahu mana saja yang rawan kebakaran dan sulit mendapatkan air. Selain itu kami juga bikin dua embung sebagai tempat penampungan,” kata Intan, ketua eLPaM saat jurnalis workshop pencegahan Karhutla terjun lapangan di kawasan yang didampinginya tersebut, Kamis (23/6).
Menariknya, jika Pemprov Kalteng menargetkan 2000 sumur bor dengan dana Rp 20 juta per unit, organisasi non pemerintah (non govermental organisation/NGO) ini cukup mengeluarkan ongkos Rp 9,5 juta saja per unit, termasuk pipa besi, ongkos pemasangan, dan generator set-nya. Lima unit hasil sumbangan UNDP, sementara lima unit lainnya adalah swadaya masyarakat setempat.
Untuk misi pencegahan, lanjut Intan, pihaknya menanam kembali hutan yang terbakar hebat pada 2015 dengan menanam pohon galam dan blangiran. Total yang ditanam seluas 10 hektare. Untuk menjaga kepedulian atas tanaman itu sekaligus menjaga hutan yang ditanam kembali itu, dilakukan peningkatan kapasitas pengolahan madu hutan oleh warga setempat.
“Penanaman 10 Ha itu tidak di satu hamparan melainkan di beberapa titik karena dilakukan di lahan milik masyarakat. Keuntungannya, mereka akan menjaga tanaman pohon tersebut. Yang ditanam sebanyak 12 ribu bibit bantuan UNDP,” tambah koordinator program eLPaM, Anang Juhaidi.
“Pengembangan kapasitasnya adalah kita didik pengolahan madu hutan secara lestari termasuk bagaimana kontrol kadar air madu, sebagai sumber mata pencaharian sekaligus menjaga hutannya Jadi kita tekankan bahwa ada mata rantai betapa pentingnya menjaga hutan,” katanya.
Sementara itu Khairullah, Kordinator program untuk REDD+ UNDP untuk Media Komunikasi menjelaskan, UNDP melaksanakan kegiatan workshop untuk jurnalis terkait penanggulanan Karhutla adalah bertujuan untuk pelibatan media massa dalam rangka pencegahan Karhutla di Kalteng.
“Kalteng ini karena menjadi provinsi yang parah dalam karhutla 2015. kita ingin berikan peningkatan wawasan Karhutla dan penegakan hukumnya, serta sharing pengalaman tentang implementasi REDD di Kalteng ini hingga peninjauan lapangan untuk melihat langsung implementasi kebijakan,” katanya. (ROZIKIN/m)








