GORONTALO –
**Borneonews - Gorontalo**, Dekranasda Provinsi Gorontalo tengah mengedepankan pelatihan pemasaran bagi perajin karawo di wilayah tersebut. Ketua Dekranasda, Djoewiati Kentjana Soebrata, menyampaikan inisiatif ini saat mendampingi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia yang melakukan survei dan pelatihan untuk memberdayakan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di lokasi usaha karawo yang terletak di Kecamatan Telaga, Kabupaten Gorontalo. Djoewiati menjelaskan bahwa pelatihan pemasaran ini sangat penting, mengingat mayoritas perajin karawo memproduksi sesuai permintaan saja. Dengan memahami pemasaran, diharapkan mereka mampu menyuplai stok barang yang lebih banyak dan siap memenuhi permintaan pasar. Rencana pelatihan ini mencakup pula penggunaan media sosial sebagai saluran pemasaran. Selain user-friendly, memanfaatkan media sosial juga dinilai lebih efisien dalam hal biaya. Djoewiati, yang juga merupakan istri dari Penjabat Gubernur Rudy Salahuddin, menyatakan bahwa kolaborasi dalam pemberdayaan UMKM di Gorontalo diharapkan dapat meningkatkan eksistensi karawo dan memperkenalkannya kepada masyarakat secara luas. Djoewiati juga berharap akan ada peningkatan jumlah perajin karawo dan terbukanya lebih banyak peluang usaha di kalangan masyarakat. Ia menegaskan keinginannya agar para desainer dan perajin karawo terus berinovasi agar produk karawo tidak hanya dikenal di wilayah setempat, tetapi juga di luar daerah. Komitmen ini ditunjukkan dengan program-program yang diusung Dekranasda dan kunjungan ke berbagai perajin di kabupaten-kabupaten. Desainer Wastra Nasional, Didiet Maulana, menekankan pentingnya penguatan pemasaran melalui pelatihan. Dalam kolaborasi survei yang melibatkan Bank Indonesia, PT. Bank Mandiri, dan Dekranasda Gorontalo, Didiet bersama tim Jadi Gini Belajar Bersama (JGBB) berencana untuk mengeksplorasi program, kebutuhan, dan langkah-langkah pemasaran yang tepat untuk para perajin karawo. Didiet menambahkan bahwa pengembangan ragam dan penempatan motif karawo juga sangat penting untuk memperkuat simbol-simbol daerah yang dapat dikomunikasikan melalui desain tertentu. Ia mencatat bahwa beberapa motif karawo yang ada cenderung dekoratif dan memerlukan inovasi lebih lanjut. "Masih banyak hal yang bisa dikembangkan, tidak hanya pada produk karawo tetapi juga pada produk turunan yang dihasilkan. Saya melihat ada optimisme dan semangat di kalangan perajin, bahkan beberapa di antara mereka adalah generasi muda yang berkomitmen untuk meneruskan tradisi sulaman karawo ini," ungkap Didiet. Survei dan pelatihan juga akan dilaksanakan di dua lokasi lainnya, yaitu di Desa Bubohu, Kabupaten Gorontalo, yang melibatkan kelompok perajin karawo Nirwana dan Karawo Brand’s By Te Thuna. Di masing-masing lokasi ini, para perajin diberikan kesempatan untuk berdiskusi langsung dengan Desainer Wastra Nasional. ANTARA