BORNEONEWS, Sukamara –  Berdasarkan data Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Hutbun) Sukamara, sejak Januari 2016 hingga uni 2016 jumlah hotspot atau titik panas yang terpantau dari satelit NOAA masih belum ada, alias nihil. Meski demikian titik panas diprediksi mulai muncul pada Juli 2016.

“Data satelit memang sejak Januari hingga Juni 2016 memang nihil,” tegas Kasie Perlindungan Hutan Dinas Hutbun Sukamara Surono, Rabu (27/07/2016).

Sementara ketika disinggung untuk hotspot yang terpantau pada Juli 2016 ini, Surono mengatakan pihaknya belum bisa mengeluarkan rilis data dari satelit, sebab pembuatan laporan baru dilakukan setelah data terkumpul dalam satu bulan.

“Data satelit akan dibuat laporan setelah berjalan satu bulan,” kata Surono.

Sebelumnya, Agus, warga Kelurahan Mendawai mengatakan, memang saat musim panas seperti ini banyak dimanfaatkan sebagian orang untuk membersihkan lahan, baik itu untuk membuka lahan perkebunan ataupun untuk kepentingan lainnya, sehingga saat tiba musim panas kebakaran mulai terjadi.

“Baru memasuki musim panas saja sudah ada yang bakar walaupun kebakarannya masih dalam skala kecil. Padahal pemerintah sudah melarang itu, meskipun untuk kepentingan berkebun atau bertani,” kata Agus

Menurut Agus, adanya larangan membakar memang merupakan langkah baik untuk mengatasi bencana kebakaran dan kabut asap yang terjadi pada tahun sebelumnya. Walaupun hal ini memang berat bagi para petani yang ingin membuka lahan, karena dengan membakar lahan tentunya selain dapat menghemat biaya juga tenaga.

Untuk mengatisipasi kebakaran lebih besar, ia berharap kepada pemerintah Kabupaten Sukamara untuk dapat turun langsung memberikan sosialisasi atau pemahaman kepada masyarakat bahwa kebakaran dapat menimbulkan dampak buruk bagi seluruh masyarakat.

“Hendaknya pemerintah turun langsung untuk mensosialisasikan ini, agar tidak terjadinya kebakaran hutan dan lahan yang lebih besar” pinta Agus. (NORHASANAH/m)