BORNEONEWS, Palangka Raya - Anjing yang menggigit manusia selalu diindikasikan dengan anjing yang mengidap penyakit rabies, padahal belum tentu begitu. Parahnya lagi saat sudah menimbulkan korban dengan menggigit, anjing tersebut kemudian dibunuh dan jasadnya dibuang.

Menurut Bangun Simanulang, Petugas Perawat di Rabies Center Palangka Raya, hal ini menyulitkan pihaknya mengidentifikasi apakah benar anjing tersebut mengidap rabies atau tidak. Karenanya pihaknya meminta masyarakat agar jangan membunuh setiap anjing yang menggigit manusia.

"Inilah, tingkat kepedulian masyarakat terhadap rabies masih minim. Kalau sudah digigit langsung dibunuh (anjingnya) padahal belum tentu (dia menggigit) karena faktor rabies. Bisa karena tamu tak dikenal atau karena melindungi diri sehabis melahirkan, belum tentu mengidap rabies makanya harus diperiksa dulu," ungkap Bangun kepada Borneo News saat ditemui di UGD Puskesmas Bukit Hindu, Palangka Raya, Rabu (3/8/2016).

Ia mengatakan bahwa anjing-anjing ini haruslah diobservasi dulu selama 14 hari. Jika sejak tampak gejala rabies hingga 14 hari kemudian anjing tersebut mati maka sudah bisa dipastikan bahwa anjing tersebut mengidap rabies.

"Tapi kalau sampai 14 hari anjingnya masih hidup berarti dia tidak rabies. Sekarang untuk kota kita sudah bisa lebih cepat mengetahui apakah anjing itu mengidap rabies atau tidak dengan pemeriksaan di laboratorium raviktes di Dinas Pertanian dan Peternakan serta Dinas Perikanan. Jika was-was bawa saja ke Jl Rajawali 7 N0 3 nanti diperiksa air liurnya, akan ketahuan di sana. Dengan demikian aman, anjingnya tidak perlu dibunuh kalau memang dia tidak rabies," pungkasnya. (TESTI PRISCILLA/m)