BORNEONEWS, Sampit – Warga Jalan Kapten Mulyono, Sampit, Kotawaringin Timur (Kotim), digemparkan oleh kemunculan seekor beruang yang sudah tiga hari berkeliaran di sekitar permukiman. Menurut laporan warga, beruang tersebut tidak hanya terlihat, tetapi juga memakan ternak milik mereka.
Repelita Budiyanto, salah satu warga yang melihat langsung kemunculan beruang tersebut, menceritakan pengalamannya yang cukup membuatnya khawatir selama 3 hari terakhir.
"Awal mula munculnya beruang itu sekitar tiga hari yang lalu, pada 26 September 2024, siang hari sekitar jam 12.00 WIB. Awalnya saya kira itu kucing, karena ukurannya agak besar dan warnanya hitam polos. Ternyata, setelah didekati, itu beruang. Saya dan adik saya sempat mencoba mengejarnya, tetapi beruang itu lari ke arah timur," kata Budiyanto, Minggu, 29 September 2024.
Malam harinya, sekitar sebelum waktu salat Isya, beruang tersebut kembali muncul dan memakan ayam miliknya yang berada di kandang.
Tidak berhenti di situ, pada 27 September 2024, beruang itu datang lagi dan sempat menggaruk jendela rumah adik Budiyanto, yang bersebelahan dengan rumahnya.
"Adik saya mencoba memburunya, tetapi lagi-lagi beruang itu berhasil lari," tambahnya.
Berlanjut, pada 28 September 2024 sore hari, beruang tersebut tiba-tiba muncul dari kamar mandi yang berada di bagian paling belakang rumah. Saat itu, kepalanya sudah keluar dari atas kamar mandi, tetapi badannya masih di dalam. Kemudian beruang melarikan diri ke bangunan sebelah rumah Budiyanto.
"Jadi, dalam tiga hari berturut-turut, beruang ini terus terlihat berkeliaran di sini," ujarnya.
Kemunculan beruang ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan warga. Karena kejadian kemunculan hewan buas itu tidak pernah terjadi sebelumnya. Apalagi wilayah tersebut merupakan permukiman padat penduduk dan jauh dari habitat alami beruang.
"Dari ciri-ciri fisiknya, beruang itu lebih besar dari kucing Anggora, tetapi sedikit lebih kecil dari anjing. Warnanya hitam polos. Kami sangat khawatir, sampai adik saya harus mengungsi karena ketakutan. Kami juga kesulitan tidur karena merasa terancam," jelasnya.
Ia akhirnya melaporkan kejadian tersebut kepada Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kotim dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sampit. BKSDA pun telah memasang perangkap beruang di lokasi untuk menangkap hewan liar tersebut.
"Hari ini adalah hari keempat, dan perangkap sudah dipasang oleh BKSDA Sampit. Kami berharap beruang itu segera tertangkap. Terima kasih kepada tim yang sudah menangani masalah ini," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/j)









