BORNEONEWS, Nanga Bulik - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lamandau memastikan, hingga kini tidak ada titik api di Lamandau. Memasuki musim kemarau tahun ini, Pemkab Lamandau terus mengingatkan dan mengimbau agar semua pihak baik dunia usaha maupun masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Hal itu dimaksudkan agar di daerah Lamandau pada khsusunya terbebas dari bencana kabut asap seperti yang pernah terjadi tahun 2015. Mengingat sejumlah daerah tetangga seperti halnya Kotawringin Barat dan Sukamara sudah mulai terjadi adanya karhutla.
Bicara soal kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), Wakil Bupati Lamandau, H. Sugiyarto, menilai bahwa meski saat ini musim kemaraunya adalah kemarau basah, namun berdasarkan data dan informasi dari pihak Kodam Tanjung Pura, di wilayah Kalimantan sudah terdeteksi hampir 300 titip api (hot spot).
"Bahkan hingga tadi pagi (Jumat 12/8/2016 pagi), saya mendapat laporan dari pihak TNI bahwa sudah ada 393 titik api di wilayah Kalimantan. Tetapi, tidak satu pun titik api di Lamandau," kata Sugiyarto kepada Borneonews, Jumat (12/8/2016) siang.
Dirinya juga menyebut, meskipun berdasarkan data bahwa Lamandau ini tidak termasuk ring I dalam bahaya Karhutla, tapi langkah antisipatif itu sangatlah penting, bahkan menentukan.
"Antisipasi itu justru yang sangat penting, karena termasuk langkah pencegahan didalamnya. Tetapi, saya tekankan kepada sipapun yang melihat titik api, segeralah melapor kepada Tim Terpadu yang telah ada," serunya.
Diketahui, dari titik api yang tersebar di Kalimantan berdasarkan data yang dimiliki pihak Kodam tersebut, tidak satupun diantaranya berada di Kabupaten Lamandau. Adapaun yang masuk zona tugas Kodim 1014 Pangkalan Bun yang saat ini sudah terdeteksi ada karhutla baru Sukamara dan Kobar.
Dirinya meyakini, dengan semangat bahu membahu dan kesadaran dari semua pihak, karhutla di kalimantan, termasuk di kabupaten Lamandau akan bisa dihindari, atau setidaknya diminimalisir.
"Kalau untuk hilang atau tidak ada, Karhutla sepertinya sulit. Terlebih pada saat musim kemarau. Namun kita harapkan minimal berkurang agar bencana kabut asap tidak terulang lagi," pungkasnya. (HN/N).








