BORNEONEWS, Nanga Bulik - Pemerintah Kabupaten Lamandau meluncurkan produk kopi biji salak. Bagi sebagian orang, biji buah salak seringkali dianggap tidak bermanfaat, tidak memiliki nilai ekonomi. Karenanya, tak heran jika selama ini biji salak sering dianggap sebagai limbah yang dibuang begitu saja.

Namun siapa sangka, jika diolah dengan kreatif biji buah salak ternyata memiliki potensi ekonomi yang cukup menjanjikan, selain bisa menjadi bahan baku aneka kerajinan tangan. Buah biji salak ternyata bisa dikonsumsi, tentu dengan diolah terlebih dahulu seperti halnya kopi. Atau yang kini mulai di kenal dengan sebutan Kopi Biji Salak. Bahkan, menurut kabar yang beredar, Kopi Biji Salak ini juga mengandung banyak manfaat dan khasiat yang bagus untuk kesehatan, antara lain adalah sebagai obat darah tinggi dan obat asam urat.

Pemerintah Kabupaten Lamandau melalui Dinas Pertanian Perikanan dan Peternakan (Distanakan), lewat kelompok masyarakat binaannya, berhasil mengembangkan produksi Kopi Biji Salak yang proses pembuatannya melibatkan tangan-tangan kreatif masyarakat asli Lamandau. Khususnya masyarakat petani buah salak di Desa Sumber Jaya (H 5),  Kecamatan Menthobi Raya. Kabar gembira itupun langsung resmi dilaunching pada pembukaan Pameran Pembangunan dan Pasar Rakyat 2016, Sabtu (13/8/2016).

"Alhamdulillah, saya sangat bahagia, kini produk unggulan khas Lamandau bertambah lagi. Belum lama kita baru saja sukses mengembangkan buah lengkeng, sekarang ada Kopi Biji Salak khas Lamandau, saya resmikan, mari kita sama-sama lestarikan dan kembangkan, rasanya juga enak, tak kalah dengan kopi lainnya," tutur Wakil Bupati Lamandau,  H. Sugiyarto, kala itu.

Terlihat, usai pembukaan, Wakil Bupati beserta sejumlah pejabat lain pun turut mencoba mencicipi Kopi Biji Salak yang ternyata juga sudah mengantongi izin dari B-POM itu.

Sementara itu, Kepala Distanakan Lamandau, H. Sunarto, dalam kesempatannya menjelaskan bahwa Kopi Biji Salak khas Lamandau tersebut berhasil dibuat atas semangat semua pihak dalam mengembangkan produk petanian, khususnya buah salak. Kopi Biji Salak juga berhasil dikembangkan menjadi produk kreatif bermula dari kegelisahan para petani buah salak yang selama ini hanya melihat biji salak sebagai limbah.

"Atas dasar itu, kita (Distanakan) kemudian melakukan study ke sejumlah daerah, di antaranya ke Bali. Karena Bali disebut-sebut telah melakukan pengembangan dan cukup sukses. Sehingga kita adopsi ilmunya dan kita terapkan. Alhamdulillah sukses," kata Sunarto.

Sunarto mengatakan, sebetulnya Kopi Biji Salak asli Lamandau ini telah mulai dikembangkan sejak 2015, namun baru diperkenalkan sejak Januari 2016. Bahkan, beberapa bulan terakhir Pemkab juga telah mulai memperkenalkannya ke khalayak, misalnya dengan dijadikannya Kopi Biji Salak asli Lamandau tersebut sebagai salahsatu buah tangan/souvenir jika ada tamu dari luar daerah, atau bahkan jika kita berkunjung ke luar daerah.

BAHAN BAKU MELIMPAH

Selebihnya, Sunarto juga membeberkan, untuk bahan baku biji salak sendiri di Lamandau tidak usah diragukan lagi. Pasalnya, sudah sejak lama Lamandau memiliki daerah pengembangan pertanian buah salak, yakni di kecamatan Menthobi Raya.

Di daerah tersebut, terangnya, lahan pertanian salak milik masyarakat saat ini tak kurang dari 9 hektare, yang mayoritasnya ditanam di lahan yang memanfaatkan lahan pekarangan.

Diketahui pula, buah salak yang menjadi bahan baku Kopi Biji Salak yang saat ini dikembangkan adalah buah Salak jenis Swaru. Yakni buah salak yang memiliki tekstur cukup besar dibanding salak pada umumnya (Salak Pondoh). Meskipun, katanya, untuk rasa kulit/daging salaknya sendiri memiliki karakter rasa manis dengan sifat sedikit keset di lidah. (HN/N).