PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Kepala Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, melaporkan bahwa komoditas utama ekspor Kalteng selama Agustus 2024 adalah batu bara, minyak kelapa sawit, dan bijih zirconium, niobium, serta tantalum.

"Batu bara termasuk dalam kelompok bahan bakar mineral, minyak kelapa sawit dalam kelompok lemak dan minyak hewani/nabati, sementara bijih zirconium, niobium, dan tantalum masuk dalam kelompok bijih, kerak, dan abu logam," kata Agnes, Jumat, 11 Oktober 2024.

Dibandingkan dengan bulan sebelumnya, kata Agnes, terjadi peningkatan nilai ekspor pada seluruh kelompok komoditas, kecuali kelompok bahan bakar mineral yang mengalami penurunan sebesar US$90,14 juta atau turun 39,79 persen. Kelompok komoditas lainnya juga mengalami penurunan sebesar US$0,05 juta atau turun 55,56 persen. Peningkatan terbesar terjadi pada kelompok lemak dan minyak hewani atau nabati sebesar US$27,94 juta atau naik 124,84 persen, diikuti oleh kelompok kayu dan bahan dari kayu yang naik sebesar US$9,33 juta atau 134,63 persen.

"Jika dibandingkan dengan bulan yang sama tahun sebelumnya atau year on year, sejumlah golongan barang mengalami penurunan nilai ekspor yang cukup signifikan pada Agustus 2024," jelas Agnes.

Penurunan terbesar terjadi pada kelompok bahan bakar mineral senilai US$76,88 juta atau turun 36,04 persen, diikuti oleh kelompok lemak dan minyak hewani atau nabati yang mengalami penurunan nilai ekspor sebesar US$23,93 juta atau turun 32,23 persen.

Sebaliknya, beberapa golongan barang mengalami peningkatan nilai ekspor. Peningkatan terbesar terjadi pada kelompok bijih, kerak, dan abu logam sebesar US$3,86 juta atau naik 29,58 persen. Hal ini menunjukkan adanya dinamika yang cukup signifikan dalam komposisi ekspor Kalimantan Tengah.

"Secara kumulatif, nilai ekspor Kalimantan Tengah pada periode Januari-Agustus 2024 turun sebesar US$874,41 juta atau turun 24,75 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2023," bebernya.

Penurunan ini disebabkan oleh menurunnya nilai ekspor sejumlah kelompok barang, terutama kelompok bahan bakar mineral yang mendominasi penurunan dengan nilai sebesar US$673,97 juta atau turun 24,44 persen.

"Namun, ada pengecualian pada kelompok ampas dan sisa industri makanan yang mengalami kenaikan nilai ekspor sebesar US$1,17 juta atau naik 7,36 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada penurunan di beberapa sektor, masih ada sektor yang menunjukkan pertumbuhan positif," tutur Agnes. (TESTI PRISCILLA/H)