PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Pada Agustus 2024, layanan transportasi ekspor melalui pelabuhan di Kalimantan Tengah mencapai nilai US$74,80 juta. Angka ini menunjukkan peningkatan kontribusi dari 12,82 persen pada Juli 2024 menjadi 32,02 persen.

"Terdapat tiga pelabuhan utama yang melayani ekspor di Kalimantan Tengah selama bulan tersebut, yaitu Pelabuhan Kumai, Pelabuhan Pangkalan Bun, dan Pelabuhan Sampit," kata Kepala Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalteng, Agnes Widiastuti pada Sabtu, 12 Oktober 2024.

Pelabuhan Kumai mencatat total nilai ekspor sebesar US$65,32 juta, diikuti oleh Pelabuhan Pangkalan Bun dengan US$5,91 juta, dan Pelabuhan Sampit sebesar US$2,87 juta. Sementara itu, layanan ekspor melalui pelabuhan di provinsi lain mencapai US$158,81 juta atau 67,98 persen dari total nilai ekspor Kalimantan Tengah. Sebagian besar ekspor ini melalui Pelabuhan Banjarmasin dengan nilai US$98,35 juta atau 42,10 persen dari total ekspor.

Namun, jika dibandingkan dengan bulan yang sama tahun sebelumnya, nilai ekspor melalui pelabuhan di wilayah Kalimantan Tengah pada Agustus 2024 mengalami penurunan sebesar 24,73 persen, dari US$99,37 juta menjadi US$74,80 juta.

"Penurunan ini disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk fluktuasi permintaan pasar internasional dan perubahan kebijakan perdagangan global," tutur Agnes.

Secara year on year, nilai layanan ekspor melalui provinsi lain pada Agustus 2024 juga mengalami penurunan sebesar 32,43 persen dibanding Agustus 2023, dari US$235,02 juta menjadi US$158,81 juta. Meskipun demikian, beberapa pelabuhan di provinsi lain mengalami peningkatan ekspor, kecuali Pelabuhan Banjarmasin, Kalimantan Selatan, dan Pelabuhan Tanjung Priok, DKI Jakarta. Peningkatan tertinggi secara year on year terjadi pada Pelabuhan Kotabaru, Kalimantan Selatan, yang mencatat peningkatan sebesar US$40,40 juta.

Secara kumulatif, bila dibandingkan dengan periode Januari-Agustus 2023, terjadi penurunan layanan ekspor melalui pelabuhan di wilayah Kalimantan Tengah sebesar US$186,11 juta atau turun 28,78 persen. Penurunan ini terutama disebabkan oleh menurunnya aktivitas ekspor di Pelabuhan Kumai senilai US$119,77 juta atau turun 23,06 persen.

"Kondisi ini mencerminkan tantangan yang dihadapi oleh sektor ekspor di Kalimantan Tengah," tambah Agnes Widiastuti.

Kondisi serupa juga terjadi untuk layanan ekspor melalui provinsi lain yang mengalami penurunan sebesar US$885,19 juta atau turun 28,70 persen. Penurunan ini terutama disumbang oleh penurunan layanan ekspor melalui Pelabuhan Banjarmasin yang turun senilai US$636,29 juta atau turun 27,62 persen.

"Kami terus memantau perkembangan ini dan berupaya mencari solusi untuk meningkatkan kembali nilai ekspor," tutup Agnes Widiastuti. (TESTI PRISCILLA/J)