BORNEONEWS, Palangka Raya - Kepala Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah, Muhammad Muis, mengungkapkan bahwa saat ini terdapat delapan bahasa daerah yang direvitalisasi di provinsi tersebut. Bahasa-bahasa tersebut meliputi Dayak Ngaju, Dayak Maanyan, Dayak Bakumpai, Melayu Dialek Kotawaringin, Dayak Sampit, Dayak Katingan, Dayak Siang, dan Dayak Ut Danum. Meskipun demikian, jumlah ini masih sedikit dibandingkan dengan total 23 bahasa daerah yang ada di Kalimantan Tengah menurut data dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
Muis menekankan bahwa menjaga dan melestarikan bahasa daerah merupakan tantangan besar, namun juga membuka peluang untuk memperkaya budaya lokal.
"Dengan hanya delapan bahasa yang direvitalisasi, kita masih memiliki banyak pekerjaan untuk memastikan semua bahasa daerah di Kalimantan Tengah tetap hidup dan berkembang," ujarnya.
Festival Tunas Bahasa Ibu Tingkat Provinsi Kalimantan Tengah yang dilaksanakan pada 31 Oktober hingga 2 November 2024 di Palangka Raya menjadi salah satu upaya konkret dalam melestarikan bahasa daerah. Festival ini menggabungkan dua konsep pelaksanaan, yaitu lomba dan ekshibisi. Dari delapan bahasa yang direvitalisasi, empat bahasa dilombakan, yakni Dayak Ngaju, Dayak Maanyan, Melayu Dialek Kotawaringin, dan Dayak Bakumpai. Sementara itu, empat bahasa lainnya ditampilkan dalam ekshibisi.
Antusiasme peserta dalam festival ini sangat tinggi, terlihat dari semaraknya berbagai lomba yang diadakan. Lomba-lomba tersebut meliputi mendongeng, pidato, menulis cerpen, cipta puisi, komedi tunggal, serta tradisi lisan seperti karungut, tumet leut, dan seloka berbahasa daerah.
--page
"Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sarana untuk mempererat hubungan peserta dengan bahasa dan tradisi mereka," kata Muis.
Peserta ekshibisi juga tidak kalah menarik perhatian dengan menampilkan berbagai tradisi lisan dan seni berbahasa daerah. Dengan menggunakan bahasa daerah, para peserta semakin akrab dan bangga dengan warisan budaya mereka sendiri.
"Ini adalah langkah penting untuk memastikan bahasa daerah tetap relevan dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari," tambah Muis.
Festival Tunas Bahasa Ibu diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk terus menjaga dan melestarikan bahasa daerah.
"Mari kita jadikan bahasa daerah sebagai bagian penting dari identitas kita dan warisan budaya yang harus kita jaga bersama," pungkas Muis. (TESTI PRISCILLA/Y)









