BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Kalimantan Tengah dihujani hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla). tetapi aneh bin ajaib, dari pantauan satelit Terra dan Aqua, Selasa (13/9/2016), titik panas justeru nihil. Pantauan satelit yang menjadi andalan pihak BMKG itu tidak menunjukan satu pun titik hotspot. Padahal, sehari sebelumnya, jumlah hotspot di Kalimantan Tengah ada 92 titik, hingga tingkat kepercayaan (confident) 100%.
Hingga pukul 16.47 WIB, pantauan satelit hingga satu kepulauan kalimantan tidak menunjukan satu titik pun hotspot yang terdeteksi.
"Apabila terjadi error atau blank, maka seluruh daerah tidak akan terdeteksi Hotspot sama sekali dengan catatan pada kenyataannya masih banyak terpantau hotspot yg nilai Confidence-nya cukup tinggi," ujar salah satu prakirawan BMKG Pangkalam Bun, Selasa sore ini.
Bahkan, Senin (12/9/2016) Kabupaten Lamandau menjadi wilayah yang paling banyak terdeteksi hotspot. Bahkan nilai tingkat kepercayaannya rata-rata 100%. Di Kabupaten Kotawaringin Barat terpantau dua titik hotspot yang berada di Kecamatan Arut Utara. Menurut penuturan pihak BMKG Pangkalan Bun, pantauan hotspot nihil tidak disebabkan oleh banyaknya curah hujan saat musim kemarau ini.
Hujan saat ini hanya menjadi salah satu faktor yang dapat mengurangi jumlah hotspot. Diduga terjadi error pada pantauan satelit Terra dan Aqua tersebut. Pasalanya, jumlah hotspot sebanyak 92 titik yang tersebar di beberapa Kabupaten seperti Lamandau, Seruyan, Kobar, Katingan, Barito Selatan, Kapuas, Palangkaraya, Pulang Pisau, dan Kotawaringin Timur, lenya dalam sehari.
Di Kobar, salah satu Babinsa dari Kodim 1014 Pangkalan Bun menginformasikan bahwa terjadi kebakaran lahan di sekitar desa Karang Anyar, Kecamatan Arut Selatan. Namun lagi-lagi, pantauan di satelit tidak ada titik hotspot yang terdeteksi.
Menurut Kepala BPBD Kobar, Hermon F Lion melalui salah satu stafnya mengatakan, kebakaran yang terdjadi khususnya di Kobar akibat pembakaran hutan hingga terpantau satelit. "Yang pasti lahan dulu dan merambat ke hutan, itu akibat pembakaran," katanya yang mengaku tengah memadamkan titik api di wilayah kota Pangkalan Bun dan Desa Kubu. Sementara itu, terkait keanehan ini, Kepala BMKG Pangkalan Bun, Lukman Soleh memberikan keterangan apa-apa saat dimintai konformasi.
Kepala BMKG Pangkalan Bun, Lukman Soleh mengakui jika satelit tengah mengalami masalah atau error. Namun ia sendiri memastikan belum mendapat informasi pasti penyebab error satelit tersebut. Namun 'blank area' bisa disebabkan karena satelit tidak melewati wilayah teraebut, ataupun karena tutupan awan yang cukup tebal hingga menyebabkan hotspot tidak terpantau atau terdeteksi.
"Iya satelit lagi error. Ada kelemahan perihal scan satelite tidak bisa diprediksi kapan bisa errornya. Untuk yang siang ini scan hotspot mengalami kendala (error) penyebabnya kurang tahu. Karena satelit tersebut menggunakan Lapan," ujar Lukman Soleh. (CECEP HERDI/N).








