BORNEONEWS, Sampit - Menjelang perayaan Natal 2024 dan Tahun Baru 2025 (Nataru), harga sayur mayur di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengalami lonjakan drastis. Kenaikan ini membuat para pembeli meringis.
Sumi, salah seorang pedagang sayur, mengungkapkan bahwa kenaikan harga disebabkan oleh beberapa faktor. Cuaca yang tidak menentu dan sering terjadi hujan menyebabkan gagal panen di sejumlah kebun. Selain itu, peralihan jenis tanaman oleh para petani juga menjadi faktor penyebab.
"Banyak petani yang kebunnya terendam banjir karena hujan deras. Mereka yang tadinya menanam tomat, sekarang beralih menanam yang lain. Ini juga membuat harga sayur jadi naik," katanya, Sabtu, 14 Desember 2024.
Permintaan yang tinggi menjelang Nataru juga menjadi pemicu kenaikan harga. Sumi menjelaskan bahwa permintaan sayur seperti timun, tomat, dan terong meningkat hingga 60 persen. Namun, peningkatan permintaan tidak diimbangi dengan produksi.
"Permintaan sayur mayur jelang Natal dan Tahun Baru memang tinggi, tapi barang kami terbatas. Jadi, harga pun ikut naik," ungkapnya.
Diketahui harga sayuran saat ini seperti sawi melonjak dari Rp10 ribu menjadi Rp25 ribu per ikat, bayam dari Rp5 ribu menjadi Rp13 ribu per ikat, dan kangkung dari Rp3 ribu menjadi Rp6 ribu per ikat. Kenaikan juga terjadi pada timun Rp8 ribu menjadi Rp15 ribu per kg , terong Rp12 ribu menjadi Rp18 ribu dan tomat Rp12 ribu menjadi Rp25 ribu.
Sri, salah seorang pembeli, mengaku tidak heran dengan kenaikan harga sayur menjelang Nataru. Meskipun merasa terbebani dengan melonjak harga sayur mayur saat ini, dia tetap membeli untuk kebutuhan rumah tangga.
"Biasanya menjelang akhir tahun, harga barang-barang naik. Kami sudah paham. Tapi, kebutuhan rumah tangga tetap harus dipenuhi," kata Sri. (DEVIANA/H)









