BORNEONEWS, Nanga Bulik - Selama dua bulan, 246 mahasiswa Universitas Antakusuma (Untama) Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di wilayah kabupaten Lamandau. Seiring rampungya kegiatan KKN tersebut, Pemerintah Kabupaten Lamandau secara resmi menyerahkan kembali ratusan mahasiswa tersebut kepada pihak kampus, seraya berharap program serupa kembali dilaksanakan.
Wakil Bupati Lamandau, H. Sugiyarto, secara langsung menyerahkan para mahasiswa kepada Rektor Untama, Prof. Jeffrie Wattimena, ditandai pelepasan atribut (jaket almamater), di Gedung Pertemuan Umum (GPU) Lantang Torang, di Nanga Bulik, Senin (19/9/2016).
Dalam kesempatannya, Sugiyarto meyakini selama melaksanakan KKN di Lamandau, para mahasiswa telah mendapat banyak pengalaman berharga. "Karena biasanya apa yang dipelajari di bangku kuliah, pada aplikasinya akan sangat berbeda dengan apa yang ada di lapangan. Tentunya ini membutuhkan adaptasi agar para mahasiswa cepat menyesuaikan dengan kondisi riil yang ada di desa," ungkapnya.
Pada saat penerimaan pesert KKN beberapa waktu lalu, Wabup mengaku pernah menyinggung perihal posisi desa yang sekarang ini menjadi salah satu titik sentral pembangunan. Sekarang desa memperoleh banyak aliran dana, terutama dana desa, sehingga peluang desa menjadi berkembang sangat terbuka. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa salah satu kelemahan mendasar bagi pembangunan di desa adalah sumber daya manusia (SDM).
"Sebab, fenomena yang terjadi saat ini adalah para lulusan sarjana yang berasal dari desa, jarang yang mau kembali untuk membangun desanya," bebernya.
Dengan adanya mahasiswa Untama yang melaksanakan KKN di lamandau ini, harapan kami tentu akan memberikan pemahaman kepada masyarakat untuk bersama-sama membangun desa yang didukung oleh SDM yang berkualitas.
Dalam kesempatan itu, Sugiyarto juga berpesan kepada seluruh mahasiswa untuk merubah image di mata masyarakat.
"Sebab, opini masyarakat terhadap mahasiswa sekarang mengalami degradasi yang sangat tajam. Dimana dari pemberitaan di berbagai media masa, mahasiswa diidentikan dengan tukang kritik dan tukang demo yang berujung kepada rusuh," ucapnya.
Karena itu, kata wabup, para mahasiswa harus bisa menunjukan bahwa mahasiswa adalah agent of change atau agen perubahan untuk pembangunan yang lebih baik.
SIAP JADI DAERAH PILIHAN KKN
Dalam kesempatan itu pula, Wakil Bupati mengaku bahwa pihaknya siap menerima kembali jika kedepan adalagi wacana mahasiswa dari Untama yang KKN di Lamandau lagi. Terlebih, untuk yang telah berlangsung, baru 22 desa saja yang menjadi sassaran.
"Kabupaten Lamandau ini terdiri dari 88 desa dan kelurahan. Jadi dengan 22 desa yang tahun ini menjadi lokasi KKN, tentu masih banyak desa yang belum," ungkapnya.
Karena itu, lanjut dia, kita (Pemkab Lamandau) siap jika nantinya menjadi lokasi KKN lagi, bahkan dengan jumlah yang lebih besar.
"Sehingga kita bisa menempatkan para mahasiswa di desa lainnya secara merata," bebernya.
Menurutnya, dengan adanya mahasiswa yang melaksanakan KKN di desa-desa, mahasiswa bisa membantu masyarakat secara umum dan perangkat desa khususnya dalam kaitanya program pembangunan desa.
"Semakin banyak desa yang menjadi lokasi KKN, maka semakin baik. Masyarakat juga merasakan sumbang sih pemikirannya untuk pembangunan desa," pungkasnya.
Bak gayung bersambut, Rektor Untama, Jeffrie Wattimena, juga mengaku sangat mengapresiasi sambutan serta dukunganyang begitu terbuka dari pihak Pemkab Lamandau. Bahkan baginya, sesuai laporan mahasiswa dan para pembimbing di lapangan, KKN di Lamandau kali ini sangat memberikan kesan yang luar biasa baik bagi dunia kampus. Karenanya, dirinyapun menargetkan dan memastikan bahwa kerjasama antara kampus Untama dan Pemkab Lamandau tidak akan berhenti sampai disini.
"Lamandau memang luar biasa, masyarakat dan pemerintahnya sangat terbuka, sehingga kegiatan civitas akademika kami sangat terbantu. Tentu kedepanpun kami akan mempertimbangkan Lamandau sebagai daerah pilihan utama dalam kegiatan-kegiatan seperti ini," tukasnya. (HENDI NURFALAH/N).








