BORNEONEWS, Sampit - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang akan diluncurkan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) pada 20 Januari 2025, menghadapi sejumlah tantangan, khususnya dalam hal distribusi makanan ke sekolah-sekolah yang terlibat dalam uji coba.
Meski program ini bertujuan untuk memberikan makanan bergizi kepada ribuan siswa, kendala distribusi menjadi perhatian utama. Vendor yang terlibat dalam program ini hanya mampu menyuplai sekitar 3.000 hingga 3.500 paket makanan per hari. Namun, radius distribusi terbatas hanya sekitar 6 kilometer dari lokasi dapur, menimbulkan kekhawatiran terkait kemampuan untuk menjangkau sekolah-sekolah yang lebih jauh atau yang lebih membutuhkan bantuan makanan bergizi.
Wakil Bupati Kotim, Irawati, menyatakan harapannya agar radius distribusi ini dapat diperluas, sehingga sekolah-sekolah yang benar-benar membutuhkan bisa menjadi prioritas dalam pendistribusian makanan bergizi.
"Kami berharap agar sekolah-sekolah yang benar-benar membutuhkan bisa menjadi prioritas dalam pendistribusian makanan ini," katanya, Rabu, 15 Januari 2025.
Irawati menjelaskan dengan hanya satu vendor yang terlibat dalam uji coba ini, pihaknya berharap proses distribusi dapat berjalan lancar dan sesuai dengan kebutuhan, meskipun tantangan jarak dan kapasitas suplai menjadi isu yang harus segera diatasi.
--page
Irawati juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, vendor, serta pihak sekolah untuk memastikan bahwa semua anak yang berhak mendapat manfaat dari program ini.
" Ke depannya, diharapkan lebih banyak vendor yang dapat berpartisipasi untuk memperluas cakupan distribusi dan memastikan bahwa semua penerima manfaat mendapatkan makanan bergizi yang mereka perlukan," ujarnya.
Program ini tidak hanya bertujuan untuk memberikan makanan gratis, tetapi juga untuk meningkatkan kualitas gizi anak-anak di Kotim, sehingga mereka dapat tumbuh sehat dan memiliki potensi yang lebih baik untuk masa depan mereka. (DEVIANA/Y)









