BORNEONEWS, Sampit - Air sungai di wilayah Kecamatan Teluk Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai payau atau berasa asin akibat masuknya air laut. Untungnya kini instalasi air bersih dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) sudah masuk ke wilayah tersebut sehingga warga tidak kesulitan lagi mendapatkan air bersih.
Saiful, warga Desa Parebok mengatakan air yang payau saat ini hanya digunakan untuk keperluan mencuci. Untuk keperluan konsumsi yaitu air minum dan untuk memasak, sebagian besar warga sudah menggunakan air bersih yang disalurkan PDAM.
"Alhamdulillah sejak PDAM masuk ke desa ini, kami tidak lagi kesulitan mendapatkan air bersih, khususnya saat air payau seperti sekarang," kata Saiful, Sabtu (1/2/2025).
Kecamatan Teluk Sampit berada di wilayah pesisir. Kondisi ini membuat air sungai di wilayah ini menjadi payau saat sungai pasang surut akibat intrusi atau tercampur air laut.
Sebelumnya, krisis air bersih sering melanda wilayah pesisir, khususnya Kecamatan Mentaya Hilir Selatan dan Teluk Sampit, khususnya saat kemarau. Hal itu lantaran sumur menjadi kering, sedangkan air sungai menjadi payau akibat intrusi air laut.
--page
Kondisi ini berangsur bisa diatasi setelah Pemerintah Kabupaten Kotim memperluas jangkauan instalasi air bersih PDAM setempat. Bahkan pada Minggu (8/9/2024) lalu Bupati Halikinnor meresmikan penggunaan sambungan baru bantuan pemerintah daerah untuk 310 rumah, meliputi 227 rumah di Desa Parebok dan 83 rumah di Desa Sei Ijum Raya.
Selanjutnya pada Kamis (16/1/2025) lalu Bupati Halikinnor kembali meresmikan sebanyak 59 sambungan rumah (SR) baru bantuan pemerintah daerah untuk warga di Desa Sei Ijum Kecamatan Mentaya Hilir Selatan.
Kini masyarakat tidak kesulitan lagi mendapatkan air bersih. Masyarakat sangat berterima kasih atas bantuan dan kerja keras pemerintah daerah.
"Kami sangat berterima kasih karena bantuan sambungan PDAM itu diberikan secara gratis oleh pemerintah daerah. Ini benar-benar sangat membantu kami. Sekarang kami tidak kesulitan lagi mendapatkan air bersih meski air sungai payau maupun saat kemarau," pungkas Saiful.
Sementara itu Kepala Dinas Cipta Karya, Tata Ruang dan Pertanahan Kabupaten Kotawaringin Timur, Rafiq Riswandi mengatakan, untuk di Kecamatan Mentaya Hilir Selatan ada 220 SR yang harus diperbaiki karena tidak berfungsi.
"Dari 220 itu pada tahun 2024 yang bisa kita usahakan dengan anggaran yang ada itu 50 SR yang kita perbaiki, sedangkan yang 9 SR itu adalah baru. Kita tangani dengan kemampuan dana yang ada," kata Rafiq.
--page
Saat ini masih ada 170 SR yang perlu diupayakan. Biaya perbaikan satu SR sebesar Rp5 juta sehingga untuk memperbaiki 170 SR diperlukan dana Rp850 juta.
"Kita perjuangkan mudah-mudahan nanti di APBD Perubahan 2025 atau di APBD murni 2026 ini bisa kita selesaikan yang 170 SR sisanya itu. Insya Allah kalau anggarannya ada maka yang 170 itu bisa kita tangani," pungkas Rafiq Riswandi. (DEVIANA/Y)









