SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit -  Kepala Badan Pusat Statistik Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Eddy Surahman menyebut daerah tersebut mengalami deflasi pada Januari dan Februari 2025. Namun ia tetap meminta pemerintah daerah waspada terhadap potensi lonjakan harga jelang hari besar keagamaan seperti Idul Fitri. 

"Kenaikan harga menjelang hari besar sudah menjadi tren. Tingginya permintaan dan perilaku konsumen menjadi faktor utama," ungkapnya, Senin, 03 Maret 2025.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, BPS Kotim merekomendasikan beberapa strategi pengendalian inflasi yang perlu dilakukan oleh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kotim.  Strategi tersebut meliputi menjaga ketersediaan stok pangan dengan memastikan pasokan pangan cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Kemudian, menjaga keterjangkauan harga dengan melakukan upaya agar harga tetap terjangkau bagi semua lapisan masyarakat.

"Selain itu, memastikan kelancaran distribusi dan menjaga keseimbangan harga di tingkat konsumen. Pemerintah daerah juga perlu meningkatkan kerja sama antar daerah untuk memenuhi kebutuhan pokok di Kotim," terangnya. 

--page

Eddy menambahkan pentingnya intervensi pasar, seperti penyelenggaraan pasar murah atau pasar penyeimbang, untuk mengendalikan harga ayam ras dan cabai rawit.  Komoditas-komoditas yang berkaitan langsung dengan kebutuhan pokok masyarakat, menurutnya, sangat berpengaruh terhadap inflasi. 

"Perubahan harga sedikit saja akan berdampak besar.  Oleh karena itu, pengendalian inflasi membutuhkan kerja sama semua pihak," tuturnya. (DEVIANA/Y)