BORNEONEWS, Sampit - Wakil Bupati (Wabup) Kotawaringin Timur (Kotim) Irawati mengimbau masyarakat yang tinggal di bantaran sungai untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman serangan buaya, terutama di musim kawin hewan buas tersebut.
"Untuk masyarakat Kabupaten Kotim yang rumahnya masih berada di bantaran sungai, kami atas nama pemerintah daerah mengingatkan agar sementara waktu tidak mandi, mencuci, atau buang hajat di sungai. Jika tidak ada fasilitas di dalam rumah, setidaknya perhatikan kanan kiri sebelum ke pinggiran sungai," kata Irawati, Sabtu, 5 April 2025.
Menurutnya, saat ini merupakan musim kawin buaya, di mana hewan buas tersebut menjadi lebih agresif dan rawan menyerang. Irawati juga menyarankan agar masyarakat mandi menggunakan timba atau ember, bukan turun langsung ke sungai.
"Musim seperti ini buaya sedang aktif mencari mangsa, mereka tidak bisa membedakan apakah itu manusia atau bukan. Kemarin saat saya memantau pencarian korban, tidak hanya satu, tapi tiga ekor buaya muncul di lokasi tersebut," tambahnya.
Ia juga menegaskan agar masyarakat tidak mempercayai mitos-mitos seputar buaya yang dapat membuat lengah. Buaya adalah hewan liar yang bisa menyerang kapan saja jika merasa terancam atau lapar.
--page
"Keselamatan adalah yang utama. Jangan abaikan imbauan ini demi mencegah jatuhnya korban jiwa berikutnya," pungkas Irawati.
Adapun dirinya turut memantau pencarian korban serangan buaya di Kecamatan Pulau Hanaut. Korban serangan buaya bernama Sani (35) dilaporkan hilang setelah mendapat serangan buaya saat sedang mandi di Sungai Mentaya, Desa Hanaut, Kecamatan Pulau Hanaut pada Jumat, 4 April 2025 sekitar pukul 09.00 WIB.
Pencarian korban sempat terkendala cuaca dan kondisi sungai yang keruh. Setelah lebih dari 24 jam korban berhasil ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada Sabtu, 5 Maret 2025 sekitar pukul 14.20 WIB. (DEWI PATMALASARI/Y)









