PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Kepala Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, melaporkan bahwa komoditas utama ekspor Kalimantan Tengah pada Februari 2025 meliputi batu bara, minyak kelapa sawit, dan kayu olahan.

"Meskipun sejumlah kelompok komoditas menunjukkan peningkatan nilai ekspor, secara keseluruhan ekspor Kalimantan Tengah mengalami penurunan signifikan dibandingkan bulan sebelumnya dan periode yang sama tahun sebelumnya," kata Agnes pada Senin, 14 April 2025.

Kelompok kayu dan barang dari kayu menjadi komoditas dengan peningkatan tertinggi bulan ini, mencapai US$11,19 juta atau naik 191,94 persen dibanding bulan sebelumnya. Selain itu, ekspor kelompok berbagai produk kimia kembali tercatat dengan nilai US$2,00 juta setelah sebelumnya tidak ada ekspor.

"Kelompok garam, belerang, dan kapur mencatat kenaikan 218,60 persen senilai US$1,88 juta, sedangkan kelompok karet dan barang dari karet meningkat sebesar 17,77 persen menjadi US$0,97 juta," jelas Agnes.

Namun, penurunan ekspor juga terjadi pada sejumlah kelompok, khususnya pada komoditas bahan bakar mineral yang mengalami penurunan sebesar US$6,84 juta atau turun 3,06 persen.

"Secara year on year, yakni Februari 2024 hingga Februari 2025, penurunan ekspor batu bara bahkan mencapai US$130,08 juta, turun 37,47 persen, menjadi penyebab utama penurunan nilai ekspor Kalimantan Tengah sebesar US$114,14 juta atau turun 27,39 persen, " katanya.

Penurunan pada kelompok bijih, kerak, dan abu logam juga signifikan, mencapai US$5,91 juta atau turun 40,34 persen. Sebaliknya, peningkatan ekspor kayu dan barang dari kayu secara year on year mencapai US$9,47 juta atau naik 125,43 persen, serta kelompok karet dan barang dari karet meningkat tajam sebesar US$5,05 juta, naik 365,94 persen.  

Agnes Widiastuti mengungkapkan bahwa meskipun kayu olahan dan karet memberikan angin segar, secara kumulatif ekspor Kalimantan Tengah pada periode Januari-Februari 2025 tetap mengalami penurunan hingga US$209,25 juta atau turun 25,86 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kelompok bahan bakar mineral menjadi penyumbang terbesar atas penurunan ini dengan penurunan sebesar US$219,93 juta.  

"Kami berharap bahwa sektor-sektor lain seperti kayu dan barang dari kayu dapat terus mempertahankan tren positifnya sebagai upaya untuk mengurangi dampak dari penurunan ekspor pada komoditas utama seperti batu bara," ujar Agnes. (TESTI PRISCILLA/j)