PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Industri kelapa sawit terus menunjukkan peran strategis dalam perekonomian Indonesia. Dengan persebaran di 26 provinsi, sektor ini berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi regional, penyediaan lapangan kerja, dan pengurangan kemiskinan.

Jutaan penduduk Indonesia menggantungkan hidupnya pada industri ini, menjadikannya salah satu sektor dengan dampak sosial dan ekonomi yang luas.

Menurut studi PASPI (2021) dalam laporan Economic Sustainability Industri Sawit Indonesia: Review dan Isu Strategis, pertumbuhan perkebunan sawit Indonesia selama 20 tahun terakhir sangat pesat. Luas kebun sawit nasional meningkat dari 4,1 juta hektare pada tahun 2000 menjadi 16,3 juta hektare pada 2020. Produksi minyak sawit mentah (CPO) juga mengalami lonjakan tujuh kali lipat, dari 7,1 juta ton menjadi 47 juta ton dalam kurun waktu yang sama.

Menariknya, kebun sawit rakyat turut mengalami ekspansi signifikan, tumbuh enam kali lipat dari 1,1 juta hektare menjadi 6,7 juta hektare. Hal ini meningkatkan pangsa sawit rakyat dalam industri nasional dari 27 persen menjadi 41 persen.

"Pertumbuhan industri sawit Indonesia bisa dikategorikan sebagai revolusioner, bahkan setara dengan green revolution dalam pertanian," ujar Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP, Eddy Abdurrahman pada Rabu, 23 April 2025.

Dari perspektif ekonomi nasional, industri sawit, baik di sektor perkebunan maupun industri hilir, memiliki dampak positif terhadap pertumbuhan Produk Domestik Bruto atau PDB.

"Perkebunan sawit menunjukkan pertumbuhan net production value yang lebih tinggi dibandingkan komoditas lain seperti padi, karet, dan peternakan," ungkap Eddy lagi.

Sejak tahun 2011, Indonesia semakin gencar melakukan hilirisasi minyak sawit melalui tiga jalur utama: oleofood, oleokimia, dan biodiesel. Langkah ini membawa perubahan signifikan dalam komposisi ekspor. Berdasarkan data PASPI (2021), ekspor minyak sawit tahun 2010 didominasi oleh CPO dengan pangsa 57 persen. Namun, pada tahun 2020, ekspor produk olahan meningkat pesat hingga mencapai 78 persen, menggeser dominasi ekspor CPO menjadi hanya 22 persen.

Data dari Badan Pusat Statistik atau BPS mencatat bahwa nilai ekspor minyak sawit mengalami pertumbuhan pesat selama dua dekade terakhir. Pada tahun 2000, nilai ekspor tercatat sebesar 1,08 miliar dolar AS, meningkat menjadi 16,3 miliar dolar AS pada tahun 2010, dan terus bertambah hingga mencapai 23 miliar dolar AS pada tahun 2020.

Tahun lalu, ekspor minyak sawit Indonesia mencapai nilai tertinggi sebesar 27,75 miliar dolar AS atau setara Rp440 triliun.

"Angka ini menunjukkan bahwa industri sawit tidak hanya menjadi tulang punggung perekonomian nasional, tetapi juga berkontribusi besar terhadap stabilitas ekonomi global," tutup Eddy. (TESTI PRISCILLA/H)