BORNEONEWS, Nanga Bulik - Hari terberat dilalui oleh Bahrul, alias Bayu, 55, pada (7/10/2016) lalu, ketika istinya almarhumah, Mahniar, 50, warga RT 06 Nanga Bulik, Kecamatan Bulik, Lamandau, mengalami kecelakaan tunggal di perairan Sungai Lamandau.
Kepada Borneonews, di RSUD Lamandau beberapa jam setelah jasad Mahniar berhasil ditemukan tak bernyawa Sabtu (8/10/2016), Bayu menceritakan bahwa hari Jumat (7/10/2016) bak hari kiamat baginya. Apalagi, jika harus mengenang kejadian yang dialaminya sekitar pukul 14.15 WIB di Sungai Bulik, sekitar 300 meter dari Muara Bulik (Pertemuan Sungai Bulik-Sungai Lamandau).
Betapa tidak, tanpa disangka-sangka dirinya yang sedang mengayuh sampan kecil yang terbuat dari kayu ulin berukuran sekitar 3 meter, tiba-tiba terbalik dan terlempar di derasnya air Sungai yang arusnya berlawan arah karena tertimpa dahan pohon Cangkuang dengan ukuran cukup besar yang jatuh tepat di pundak isterinya yang sama-sama tengah mengayuh sampan untuk menuju ladang yang jaraknya tinggal beberapa kilo lagi dari tempat kejadian.
"Tidak ada suara (retak) tanda-tanda dahan pohon mau patah, tiba-tiba saja jatuh dan menimpa pundak isteri saya yang sedang dalam posisi mengayuh (menunduk) di bagian depan sampan. Saat itu saya berada di posisi belakang dan sama-sama mengayuh. Saat dahan pohon jatuh menimpa kami, sampan kami terbalik dan kamipun hanyut bersama sampan yang kami naiki," katanya.
Bayu juga menuturkan, disaat dirinya terlempar dan ikut hanyut, beberapa saat kemudian dirinya berhasil naik ke permukaan air, disaat itupula kehilangan sang isteri.
"Saat saya naik ke permukaan, saya lihat ke semua posisi tapi isteri saya tidak ada, saat itu persaan saya mulai campur aduk," katanya.
Sadar isterinya tak kunjung naik ke permukaan, instingnya kala itu tak berfikir panjang dan langsung melakukan penyelaman.
"Saat itu saya langsung nyelam mencari isteri ke dasar sungai, 3 kali melakukan penyelaman saya tidak berhasil menemukan isteri saya, apalagi saat itu saya tidak memiliki dan membawa alat bantu apapun, kondisinyapun sangat sulit, air sungai juga keruh dan juga deras, kondisi dasar sungai tidak stabil, di dasar sungai bayak akar-akar dan kayu-kayu (Roba)" katanya.
Dalam penyelaman ke empat, sebut Bayu, dirinya baru berhasil menemukan posisi sampan di dasar sungai dengan posisi nyangkut di akar sungai yang posisinya berada pada beberapa meter dari posisi kecelakaan. Nahas, isterinya sudah tidak ada di sekitar sampan.
"Saat itu saya sudah tak habis fikir, dan langsung lari sekencang-kencangnya ke daerah Bulik Seberang (RT 9) untuk mencari pertolongan, kala itu saya sudah tak merasakan duri atau apapun yang saya injak, perasaan saya sudah tidak karuan," tuturnya terbata-bata.
Setelah ada sejumlah warga yang mau ikut menolong, Dirinya mengaku kembali lagi ke lokasi, namun dengan kondisi yang tidak memungkinkan, dirinya tidak diizinkaln lagi untuk turun melakukan pencarian.
"Warga dan keluarga saya yang ikut ke lokasi melarang dan menahan saya untuk nyelam lagi, karena perasaan dan kondisi saya saat itu yang campur aduk dan fisik sayapun sudah mulai lemah, ditakutkan justru saya kena kram atau terjadi hal yang tidak diinginkan, sehingga saya hanya bisa melihat (proses pencarian) saja" ungkapnya.
Namun demikian, Bayu mengaku bahwa meskipun sudah berjam-jam tidak berhasil ditemukan, perasaannya tetap yakin bahwa jasad sang isteri masih berada di sekitar lokasi kecelakaan. Meskipun, siring berjalannya waktu, dirinya merasa harus tetap harus realistis bahwa jasad isterinya akan sulit ditemukan dengan kondisi selamat.
Seperti diketahui, Jasad Mahniar pada akhirnya ditemukan keesokan harinya dalam kondisi tidak bernyawa oleh tim pencari yang melakukan pencarian selama kurang lebih 26 jam, tepatnya pada Sabtu (8/10/2016) sekitar pukul 16.10 WIB. Jasadnyanya ditemukan sekitar 30 meter dari lokasi kecelakaan, dengan kondisi tersangkut di sela-sela Roba (kayu-kayu) dan akar-akar pohon di dalam sungai dengan kedalam sekitar 3 meter dari permukaan air. Jasadnya berhasil ditarik dengan menggunakan pancingan duri.
Bayu pun mengaku bahwa dirinya dan keluarganya telah mengiklaskan kepergian isterinya tersebut. Dirinyapun meras taenang karena jasad isterinya berhasil ditemukan dan bisa dimakamkan. (HENDI NURFALAH/m)








