BORNEONEWS, Sampit - Kepala Perum Bulog KC Kotim, Muhammad Azwar Fuad, mengungkapkan ada tantangan dalam penyerapan gabah saat ini yaitu akibat musim hujan yang masih berlangsung. Pasalnya sebagian besar petani lokal masih mengandalkan panas matahari untuk mengeringkan gabah mereka.
"Sebelum dilakukan penggilingan kadar air gabah harus dipastikan. Kalau gabahnya tidak kering atau kadar airnya di atas 14 persen, berasnya tidak bagus," katanya, Minggu, 27 April 2025.
Sementara saat ini musim hujan masih berlangsung, petani lokal masih mengandalkan panas matahari untuk mengeringkan gabahnya. Sehingga memerlukan waktu lebih lama untuk pengeringan padi di musim saat ini.
"Saat ini, karena curah hujan masih tinggi, gabah membutuhkan waktu jemur yang lebih lama, bahkan lebih dari tujuh hari. Ini yang menjadi tantangan utama kami di lapangan," ucapnya.
Namun ia menegaskan, Perum Bulog Kantor Cabang Kotim telah berhasil menyerap 258.380 kilogram Gabah Kering Panen (GKP) sejak 10 Maret hingga 26 April 2025.
--page
Serapan terbanyak berasal dari Desa Lampuyang, Kecamatan Teluk Sampit. Ia menegaskan, Bulog terus berupaya meningkatkan volume penyerapan gabah sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.
"Serapan ini bagian dari komitmen kami memenuhi kebutuhan beras masyarakat dan menjaga stabilitas harga," ujarnya
Sementara mengenai mekanisme pembayaran, Fuad menjelaskan, petani dapat memilih pembayaran tunai ataupun melalui transfer bank. Sebelum pembayaran dilakukan, petani wajib menyerahkan fotokopi KTP untuk keperluan input data ke sistem Bulog.
"Setelah data diverifikasi dan disetujui, pembayaran baru dapat diproses. Untuk harga gabah seperti yang ditentukan yaitu Rp6. 500 per kilogramnya," tutupnya. (DEVIANA/Y)









